{"id":698,"date":"2014-09-27T20:16:42","date_gmt":"2014-09-27T20:16:42","guid":{"rendered":"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=698"},"modified":"2014-10-01T23:38:07","modified_gmt":"2014-10-01T23:38:07","slug":"masalah-pendidikan-indonesia-p-e-n-d-i-d-i-k-a-n","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=698","title":{"rendered":"Masalah Pendidikan Indonesia :   PENDIDIKAN"},"content":{"rendered":"<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pendidikan Indonesia, sesuai dengan amanat konstitusi, mempunyai misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa guna memajukan kesejahteraan umum. Sesuai dengan amanat konstitusi, Pendidikan mencakup tiga bidang utama yang saling berkaitan yaitu:<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><strong>Perangkat keras<\/strong>, yaitu sarana dan prasarana pendidikan<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><strong>Perangkat lunak<\/strong> yaitu isi yang sesuai dengan tujuan pembangunan bangsa dan negara.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><strong>Pendidik<\/strong>, yaitu mereka yang memberikan isi dan memberi teladan kepada peserta didik.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Dari ketiga jangkauan utama itu, butir 1 dan 3 merupakan fondasi bagi butir 2. Lingkungan pendidikan yang baik tentu membutuhkan butir 1 dan 3 sebagai fondasi agar butir 2 bisa disemai dengan baik pula.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><a name=\"__RefNumPara__39847_989308134\"><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Perangkat Keras<\/b><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Yang pertama, Gambar 95 menayangkan jumlah sekolah Negeri dan Swasta di Indonesia. Ternyata jumlah sekolah di Indonesia didominasi oleh SD, yaitu 143.252 sekolah atau 55%. Sedang SMP 29.866 sekolah atau 11%, SMA 11.036 atau 4%, dan SMK 8.399 atau 3%. Disamping itu, TK 67.550 atau 26% dan SLB 1.803 atau 1%. Data ini menjelaskan gambaran strategi dan kebijakan pemerintah dalam bidang perangkat keras pendidikan, yaitu mengutamakan pendidikan SD, serupa jenjang piramida penduduk.<\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">Muncul pertanyaan mengenai daya tampung tingkat lanjut pendidikan tingkat SD atau SMP mengingat usia tersebut masih dalam usia pendidikan dasar dan bukan usia kerja. Apakah mereka akan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>dropout<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> ?<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame44\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-44.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-700\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-44.jpg\" alt=\"Screenshot-44\" width=\"800\" height=\"253\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-44.jpg 800w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-44-300x94.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 95:<\/b> Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta berdasar jenjang Pendidikan, 2010.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Bila digali lebih dalam di setiap provinsi, seperti ditayangkan pada Gambar 96, tampak bahwa distribusi jumlah sekolah berdasar jenjang pendidikan di setiap provinsi sama dan korelatif dengan jumlah penduduk. Ini menandai bahwa kebijakan pola itu merupakan hasil kerbijakan terpusat, bukan daerah. Menjadi pertanyaan kritis adalah :<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bagaimana dengan implementasi kebijakan Wajib belajar sembilan tahun sesuai dengan UU No 20 Th 2003 ketika jumlah kelas antar SD dan SMP tidak seimbang ?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bagaimana implementasi kebijakan pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ketika siswa tersebar di belasan ribu pulau?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bagaimana implementasi kebijakan pemerintah di bidang penyiapan tenaga kerja ketika kesenjangan lingkungan ada ?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000080;\">\u00a0<a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-45.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-701\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-45.jpg\" alt=\"Screenshot-45\" width=\"494\" height=\"528\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-45.jpg 494w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-45-280x300.jpg 280w\" sizes=\"(max-width: 494px) 100vw, 494px\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame1\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 96: <\/b>Jumlah Sekolah berdasar jenjang pendidikan si seluruh provinsi<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> Yang ke dua, secara nasional seperti ditayangkan pada Gambar 97 , peran Swasta dalam menyelenggarakan pendidikan tingkat TK 97% dan Sekolah Luar Biasa atau SLB 70% sangat besar. Di dua sektor pendidikan ini peran pemerintah sangat kecil, yaitu TK 3% dan SLB 30%. Disamping itu, peran pemerintah di bidang pendidikan negeri semakin berkurang pada pendidikan yang lebih tinggi. Bila pada tingkat pendidikan SD 90% maka pada SMP 72%, SMA, 64%, dan SMK 37%. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>Global<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>neoliberalism scenario<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> tampak dalam data ini, yaitu pembiayaan pendidikan dari tingkat yang tinggi dialihkan ke tingkat yang lebih rendah karena memberikan <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>return<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> yang lebih besar <\/span><\/span><strong class=\"western\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">(Carnoy, 1999), (Torres, 2009)<\/span><\/span><\/span><\/strong><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-46.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-702\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-46.jpg\" alt=\"Screenshot-46\" width=\"638\" height=\"477\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-46.jpg 638w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-46-300x224.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 638px) 100vw, 638px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 97: <\/b> Jumlah Kelas berdasar tingkat pendidikan, 2010 <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> Y<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">ang ke tiga,<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">wajib belajar sembilan tahun berarti anak wajib mengikuti pendidikan hingga tingkat pendidikan SMP. Ketika proporsi jumlah kelas secara nasional seperti dalam data tersebut, yaitu jumlah kelas SD 808.872 (negeri) + 90.144 (swasta) = 899.016, padahal jumlah kelas di tingkat lanjutan yaitu SMP adalah 185.147 (negeri) + 70.948 (swasta) = 256.095, atau 256.095\/899.016 = 28.5%, maka 72.5% lulusan SD mau kemana ? Fakta ini bisa menjelaskan fenomena :<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">dominasi jumlah angkatan kerja <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">\u2264<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> SD<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">dominasi pengangguran <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">\u2264<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> SMA<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">fenomena pengangguran di desa 63%<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Di sisi yang lain, sektor pertanian, perkebunan, perikanan tidak memberi kontribusi signifikan pada PDB ketika sektor tersebut di Indonesia sangat melimpah. Ini menjadikan fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia rapuh (Marchelo, MI, 13 Des 2012), (Wibowo MI, 4 JANUARI 2013 ).<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Yang ke-empat, kebijakan pemerintah semakin tampak jelas bila sekolah swasta diperbandingkan, lihat Gambar 99.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pada tingkat TK, sanggat jelas swasta mendominasi dan memegang peranan. Ada dua pertanyaan yang muncul, pertama seandainya swasta tidak mengisi maka bagaimana jadinya?, ke dua apakah pendidikan usia dini tidak penting bagi masa perkembangan anak?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pada tingkat SLB, di jenjang ini meskipun swasta tetap mendominasi namun pemerintah sedikit berperan dan terlihat bahwa kebijakan pemerintah mendua dengan program pendidikan inklusi.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pada jenjang pendidikan SD sangat terlihat bagaimana pemerintah mendominasi jenjang ini. Bukannya swasta tidak berperan, namun peran swasta tidak sebanding dengan peran pemerintah.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pada jenjang pendidikan SMP, peran pemerintah mulai berkurang dan di-isi oleh swasta.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<div id=\"Frame3\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">.<a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-47.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-703\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-47.jpg\" alt=\"Screenshot-47\" width=\"589\" height=\"735\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-47.jpg 485w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-47-240x300.jpg 240w\" sizes=\"(max-width: 589px) 100vw, 589px\" \/><\/a><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 98: Perceptual Map <\/b>Jumlah Kelas di Indonesia 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<ol start=\"5\">\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pada jenjang pendidikan SMA peran pemerintah semakin berkurang dibanding di jenjang Pendidikan SMP, maka peran itu kemudian di-isi oleh swasta.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"6\">\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pada jenjang SMK, peran pemerintah menjadi semakin berkurang dibanding jenjang pendidikan SMA. Seakan-akan ini memberi gambaran kebijakan pemerintah yang kurang memperhatikan pendidikan kejuruan dan lebih mementingkan pendidikan umum.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"color: #141412;\" align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-48.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-706\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-48.jpg\" alt=\"Screenshot-48\" width=\"574\" height=\"550\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-48.jpg 510w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-48-300x287.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 574px) 100vw, 574px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"color: #141412;\" align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><b>Gambar 99:<\/b>\u00a0Jumlah Kelas di Sekolah Negeri dan Swasta di Setiap Provinsi Indonesia 2010.<\/span><\/p>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pola nasional tersebut ternyata merata di semua provinsi, Gambar 100. Ini menunjukkan masalah ketidakseimbangan kelanjutan jenjang pendidikan di Tingkat SD ke SMP tersebut memang didisain secara demikian oleh kebijakan pemerintah pusat dengan kepanjangan tangan pemerintah daerah. Setiap anak di Papua, Aceh, Nunukan, Rote, Miangas, dan diseluruh penjuru negeri adalah anak Indonesia, bangsa Indoensia, yang sesuai dengan konstitusi menjadi tujuan untuk dicerdaskan. Apalagi bila dikaitkan dengan program wajib belajar sembilan tahun. Hal yang sama juga di jenjang pendidikan SMP ke SMA\/SMK dan itu juga terjadi di semua provinsi. <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><a name=\"__RefNumPara__39849_989308134\"><\/a> <span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Guru<\/b><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">Bagaimana dengan jumlah Guru sebagai pendidik ? Gambar 100 menayangkan jumlah guru negeri dan swasta secara nasional. Bagaimanapun juga, jumlah guru negeri mendominasi jumlah guru di Indonsia, yaitu 78%, sedang guru Swasta hanya 22%. Yang dimaksud guru swasta adalah<\/span><\/span><sup><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><span style=\"color: #000080;\"><sup>*<\/sup><\/span><\/a><\/span><\/span><\/sup><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> :<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bukan PNS<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Guru Tetap Yayasan<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Honor Sekolah<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Guru Bantu Pusat ATCL<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Guru Bantu daerah ATDL<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<div id=\"Frame6\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-49.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-707\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-49.jpg\" alt=\"Screenshot-49\" width=\"708\" height=\"409\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-49.jpg 708w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-49-300x173.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 708px) 100vw, 708px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 100: <\/b> Jumlah Guru di Sekolah Negeri dan Swasta berdasar jenjang pendidikan 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Meskipun jumlah guru negeri 72%, namun disttibusi di setiap jenjang pendidikan ternyata tidak mempunyai standard yang jelas. Sebagai misal mengapa jumlah guru SLB negeri sangat sedikit dan jumlah guru SD mendominasi ? Gambar 101 lebih jelas untuk memberi gambaran mengenai proporsi di setiap jenjang pendidikan. Bagaimana mungkin jumlah guru negeri jenjang SMP hanya 1\/3 jumlah guru jenjang SD ? Ini bukan hanya menunjukkan ketimpangan di sisi jumlah guru, tetapi juga di jumlah kelas atau sekolah. Di sisi yang lain, jumlah guru swasta malah lebih tampak proporsional.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"id-ID\" style=\"text-align: center;\" align=\"JUSTIFY\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-50.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-709\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-50.jpg\" alt=\"Screenshot-50\" width=\"828\" height=\"373\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-50.jpg 828w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-50-300x135.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 828px) 100vw, 828px\" \/><\/a><\/p>\n<div id=\"Frame7\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 101:<\/b> Proporsi Jumlah Guru Berdasar Jenjang Pendidikan, 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Namun demikian, bila jumlah guru negeri dan swasta itu dilihat secara nasional untuk seluruh jenjang pendidikan, Gambar 102, tampak bahwa di seluruh provinsi jumlah guru negeri jauh lebih besar dan bervariasi. Jadi, perbedaan proporsi itu ada pada jenjang pendidikan dan kemungkinan besar variasi proporsi jumlah guru negeri dan swasta dipengaruhi oleh jenjang pendidikan.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame63\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-51.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-710\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-51.jpg\" alt=\"Screenshot-51\" width=\"518\" height=\"623\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-51.jpg 390w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-51-249x300.jpg 249w\" sizes=\"(max-width: 518px) 100vw, 518px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 102:<\/b> Jumlah Guru Negeri dan Swasta di Setiap Provinsi<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Di sisi yang lain, melalui Gambar 103 tampak bahwa jumlah penduduk menjadi acuan mengenai penyediaan jumlah kelas dan guru. Lagi, tampak bahwa jumlah guru di jenjang pendidikan SD yang paling dominan dan ini setara dengan jumlah kelas.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame8\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-53.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-711\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-53.jpg\" alt=\"Screenshot-53\" width=\"625\" height=\"496\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-53.jpg 625w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-53-300x238.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 625px) 100vw, 625px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 103:<\/b> Jumlah Guru di Sekolah Negeri dan Swasta di Setiap Jenjang Pendidikan 2010.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Apabila digali lebih dalam mengenai rasio antara jumlah guru negeri dan swasta dengan jumlah kelas, seperti ditayangkan di Gambar 105 maka rasio antara jumlah guru dan jumlah kelas di setiap provinsi tidak sama. Meskipun jumlah guru negeri mendominasi 78% namun peran guru swasta yang menjadi komplemen 22 % membuat variasi itu muncul di daerah-daerah ketika pemerintah absen.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame82\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-54.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-712\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-54.jpg\" alt=\"Screenshot-54\" width=\"612\" height=\"504\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-54.jpg 612w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-54-300x247.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 612px) 100vw, 612px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 104:<\/b> Rasio Jumlah Guru Dibanding Jumlah Kelas, di Setiap Provinsi 2010.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Perceptual map yang menjelaskan kebijakan pemerintah untuk pendidik negeri dan swasta di Gambar 106 menjelaskan inkonsistensi kebijakan. Semakin jelas, pemerintqah hanya fokus pada pendidik negeri pada jenjang SD. Untuk SLB dan SMP ke atas pemerintah semakin mengurangi jumlah pendidik negeri.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame45\" dir=\"LTR\">\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"color: #000080;\">\u00a0<a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-55.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-714\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-55.jpg\" alt=\"Screenshot-55\" width=\"682\" height=\"568\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-55.jpg 682w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-55-300x249.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 682px) 100vw, 682px\" \/><\/a><\/span><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 105: <\/b> Jumlah Pendidik Negeri vs Jumlah Pendidik Swasta<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Masalah akan menjadi semakin rumit ketika piramida penduduk 2012 menunjukkan fakta bahwa usia 0-14 lebih lebar dan itu berarti membutuhkan pelayanan pendidikan ketika pelayanan pendidikan yang ada kurang memadai, baik dari sisi kelas maupun dari sisi guru. Sebagai contoh, rasio guru dan kelas di Aceh untuk jenjang SMK 3.5 itu berarti satu kelas dilayani oleh 3.5 guru secara rata-rata atau lebih dari 3 guru. Juga rasio guru dan kelas di jenjang SD Kepulauan Riau 2.0 maka itu berarti satu kelas di provinsi tersebut dilayani oleh dua guru. Sebaliknya, di jenjang SMA provinsi Jawa Barat, rasio guru\/kelas adalah 0.6. Itu berarti satu guru harus melayani lebih dari satu kelas. Seperti juga di provinsi Riau rasio guru dan kelas adalah 0.5 berarti satu guru melayani dua kelas. Variasi ini menandai kebijakan pemerintah yang tidak sama untuk pelayanan pendidikan yang menyangkut penyediaan kelas dan pendidik. Rasio proporsi guru status negeri dan kelas di sekolah negeri di di 33 provinsi Indonesia adalah :<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<dl>\n<dd>\n<table border=\"1\" width=\"234\" cellspacing=\"0\" cellpadding=\"1\">\n<tbody>\n<tr valign=\"TOP\">\n<td width=\"49\"><span style=\"color: #000080;\">\u00a0<\/span><\/td>\n<td width=\"67\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">Rata-rata<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"111\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">Standard Deviasi<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr valign=\"TOP\">\n<td width=\"49\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">TK<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"67\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">1.20<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"111\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">2.00<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr valign=\"TOP\">\n<td width=\"49\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">SLB<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"67\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">0.45<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"111\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">0.20<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr valign=\"TOP\">\n<td width=\"49\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">SD<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"67\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">1.66<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"111\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">0.22<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr valign=\"TOP\">\n<td width=\"49\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">SMP<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"67\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">2.35<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"111\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">0.30<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr valign=\"TOP\">\n<td width=\"49\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">SMA<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"67\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">0.56<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"111\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">0.20<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr valign=\"TOP\">\n<td width=\"49\">\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">SMK<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"67\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">3.28<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<td width=\"111\">\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><span style=\"font-family: Arial, sans-serif; color: #000080;\"><span style=\"font-size: small;\">0.70<\/span><\/span><\/p>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/dd>\n<\/dl>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Ternyata proporsi guru dan kelas di jenjang SMA 0.56 dengan standard deviasi \u00b1 0.2. Ini berarti, satu guru SMA secara rata-rata di seluruh provinsi melayani lebih dari satu kelas.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame9\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-715\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56.jpg\" alt=\"Screenshot-56\" width=\"470\" height=\"718\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56.jpg 385w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56-196x300.jpg 196w\" sizes=\"(max-width: 470px) 100vw, 470px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b><a style=\"font-weight: normal; color: #ac0404;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-715\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56.jpg\" alt=\"Screenshot-56\" width=\"587\" height=\"897\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56.jpg 385w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-56-196x300.jpg 196w\" sizes=\"(max-width: 587px) 100vw, 587px\" \/><\/a>Gambar 106<\/b>: Rasio Guru dengan Kelas Jenjang TK, SLB, dan SD, 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> Variasi proporsi guru dan kelas di setiap jenjang pendidikan di seluruh provinsi ditayangkan pada Gambar 107 dan Gambar 108. Inkonsitensi kebijakan pemerintah terhadap daerah semakin tampak manakala tidak ada pola variasi yang jelas di setiap jenjang pendidikan di seluruh provinsi. Hal itu mudah diamati dari pola penyimpangan terhadap rata-rata proporsi dan posisi <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>outliers atau <\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">data di luar standard deviasi<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">untuk semua jenjang pendidikan dan provinsi<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>. Outliers <\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">itu disebabkan oleh <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>special cause variation<\/i><\/span><\/span><sup><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote2sym\" name=\"sdfootnote2anc\"><span style=\"color: #000080;\"><sup>*<\/sup><\/span><\/a><\/i><\/span><\/span><\/sup><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">. Variasi proporsi provinsi Bengkulu sebagai contoh, di jenjang TK dan SLB <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>outliers<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">, namun di jenjang SD berada di bawah rata-rata variasi nasional 1.66, yaitu 1.5 yang berarti bagus, sedang di SMP, SMA, dan SMK di rata-rata nasional.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> Juga provinsi Sulawesi Barat, proporsi guru dan kelas untuk jenjang SLB 1.28 ketika rata-rata provinsi atau nasional 0.45. Sebagai tambahan, variasi proporsi provinsi Banten <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>outliers<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> positif pada jenjang pendidikan SMK, yaitu 0.72 ketika rata-rata nasional 3.28, yang berarti satu kelas dilayani oleh lebih dari 3 pendidik. Ironisnya, beberapa SMK di luar Jawa berada di <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>ouliers<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> negatif, seperti Jambi, Kepulauan Riau,Kalimantan Tengah, dan Maluku Utara. Kasus dengan pola variasi tidak jelas ini banyak terjadi dan menandai Strategi dan implementasi kebijakan pemerintah yang tidak jelas. Inkonsistensi kebijakan itu juga semakin tampak jelas pada proporsi guru swasta dan negeri sejak jenjang SD hingga SMA\/SMK.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame83\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-57.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-717\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-57.jpg\" alt=\"Screenshot-57\" width=\"544\" height=\"847\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-57.jpg 391w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-57-192x300.jpg 192w\" sizes=\"(max-width: 544px) 100vw, 544px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 107:<\/b> Proporsi Guru Terhadap Kelas Jenjang SMP, SMA, dan SMK, 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<ol start=\"3\">\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><a name=\"__RefNumPara__40120_989308134\"><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i><b>Net Enrollment Ratio<\/b><\/i><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Setelah pembahasan Perangkat Keras dan Pendidik dari sisi jumlah yang telah memberi gambaran mengenai ketersediaan fasilitas kelas dan guru, maka persoalan lain yang perlu dibahas adalah kebutuhan pendidikan formal. Yang pertama karena ada pendidikan negeri dan swasta dalam sistem pendidikan di Indonesia maka rasio pendaftar-diterima bisa menjadi indikator sampai sejauh mana anak-anak dan generasi muda memperoleh pelayanan Pendidikan.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame10\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-58.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-719\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-58.jpg\" alt=\"Screenshot-58\" width=\"685\" height=\"445\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-58.jpg 685w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-58-300x194.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 685px) 100vw, 685px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 108:<\/b> Rasio Pendaftar-Diterima di Sekolah Negeri dan Swasta 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Gambar 108\u00a0menjelaskan bahwa :<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Di semua jenjang pendidikan formal, tidak semua pendaftar diterima, baik di sekolah negeri maupun swasta.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin turun daya tampung kapasitas pendidikan formal.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pendidikan formal swasta partner handal dalam menampung kebutuhan pendidikan formal. Bahkan mulai jenjang pendidikan SMP ke atas peran swasta melampaui negeri. Pendidikan formal negeri hanya dominan di jenjang SD.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Lebih lanjut, NER atau <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Net Enrollment Ratio<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> didefinisikan oleh UNESCO sebagai ukuran dalam persentase untuk menilai kelompok usia yang masuk sekolah pada tingkat pendidikan yang sesuai. NER SD= 35% berarti ada 35 anak dari 100 anak kelompok usia SD yang sekolah dan itu berarti pula ada 65% yang tidak sekolah, Gambar 109.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame11\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-59.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-720\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-59.jpg\" alt=\"Screenshot-59\" width=\"788\" height=\"577\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-59.jpg 788w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-59-300x219.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 788px) 100vw, 788px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 109:<\/b> Net Enrolment Ratio 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span style=\"color: #000080;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-size: medium; font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif; color: #000080; line-height: 1.5;\">Tujuan dari NER adalah untuk menunjukkan sejauh mana partisipasi anak atau generasi muda dalam setiap tingkat pendidikan dan juga sekaligus menunjukkan berapa banyak anak yang tidak memperoleh pendidikan dasar. Ini sangat penting untuk mengukur tingkat akses ke pendidikan serta mengukur hak penduduk di suatu wilayah atau negara. Pada tahun 2010, Gambar 109, NER Indonesia menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin rendah partisipasi anak atau generasi muda untuk mengakses pendidikan. Pada pendidikan dasar 94.76%, menengah 67.73% dan atas 45.59%. Itu berarti pula ada 5.24% yang tidak mengenyam pendidikan dasar, 33.27% pendidikan menengah, dan 54.41% pendidikan atas.<\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Data NER ini mengundang dua pertanyaan mendasar terkait dengan pendidikan. Mengingat UU No 20\/2003 telah mewajibkan belajar sembilan tahun maka,<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Bagaimana mereka yang tidak sekolah ? Apa tanggung jawab pemerintah ?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Apakah karena tidak bisa mengakses fasilitas pendidikan karena kekurangan fasilitas atau keterbataasan sekolah yang tersedia ?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Apakah mereka tidak bisa mengakses fasilitas pendidikan karena disebabkan oleh faktor lain misal lokasi mengingat kondisi geografis Inndonesia ?<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Apakah mereka tidak bisa mengakses fasilitas pendidikan atau faktor sosial lain karena disebabkan oleh faktor seperti kemiskinan ? <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Bagaimanapun juga, itu semua merupakan indikator yang kurang bagus untuk input tenaga kerja dan pembangunan bangsa. Fakta menunjukkan bahwa tenaga kerja di desa dan kota didominasi oleh pendidikan tingkat SD dan SLTP 60% dan sisanya 40% terdiri tingkat pendidikan mulai dari SMA, Diploma, dan Universitas.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Bila data NER nasional itu diurai ke setiap provinsi, maka tampak bahwa , lihat Gambar 110:<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Di Elementary School, variasi sempit dengan standard deviasi 1.4 dan rata-rata 94.6. Artinya NER di elementary School, antara 93,2 \u2013 96. Atau hanya sekitar 5.4 % anak sesusia SD yang tdak sekolah. Namun, semakin tinggi jenjang pendidikan maka variasi itu semakin lebar dengan rata-rata NER yang semakin rendah, artinya semakin banyak yang tidak sekolah. Di Junior High School NER rata-rata 65.7 dengan standard deviasi \u00b1 7.4. Artinya ada sekitar 26.9% &#8211; 41.7% anak sesusia SMP tidak sekolah. Di Senior High School, NER rata-rata semakin rendah yaitu 46.9 dengan standard deviasi yang semakin lebar, yaitu 7.8. Itu berarti, ada sekitar 39.1% &#8211; 54.7% anak sesusia SMA yang tidak sekolah.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Di <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Elementary School<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> hanya ada satu <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>outlier<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> yang bersifat <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>kingkong effect<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">, yaitu provinsi Aceh, sehingga kala data tersebut tidak diikutkan maka variasi akan semakin sempit dan demikian pula rata-rata akan semakin bertambah. Namun semakin tinggi jenjang pendidikan outliers semakin bertambah.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pola NER di tiga jenjang pendidikan ini memberi gambaran mengenai implementasi kebijakan pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<div id=\"Frame12\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-60.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-721\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-60.jpg\" alt=\"Screenshot-60\" width=\"564\" height=\"862\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-60.jpg 387w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-60-196x300.jpg 196w\" sizes=\"(max-width: 564px) 100vw, 564px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 110:<\/b> NER 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Gradasi NER di tingkat SMP dan SMA di semua provinsi semakin memberikan indikasi mengenai ketidakintegrasian kebijakan di bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan politk pembangunan. Penganguran terbuka yang didominasi oleh tingkat pendidikan SD, SMP, dan SMA sebesar 77% di tahun 2010 menunjukkan bahwa NER rendah itu menunjukkan dua hal sekaligus, yaitu: 1. Pemerintah masih bimbang untuk menaikkan NER, 2. Seandainya NER dinaikkan, artinya fasilitas pendidikan ditambah maka tingkat pengangguran terbuka untuk tingkat SMP dan SMA akan semakin tinggi, berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonmoi 6% dan setiap 1% menyerap 400 ribu tenaga kerja. <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> Disamping itu, <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>means years schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> yang ditayangkan pada Gambar 112 memberi gambaran mengenai ketimpangan <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>means years schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> diseluruh provinsi Indonesia. <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Negative Outliers<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>means years schooling <\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">adalah provinsi Kalimantan barat, NTT, NTB, Sulawesi Barat, yaitu dibawah 7 tahun. Data yang eratik menyebar di sekitar nilai tengah menjelaskan implementasi kebijakan yang tidak setara. Hanya sebagian kecil kalau menurut data tersebut yang bisa mencapai jenjang SMP. Provinsi DKI adalah <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>positive outliers<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">, yaitu 11 tahun dan sebagai kingkong effect.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame84\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-61.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-722\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-61.jpg\" alt=\"Screenshot-61\" width=\"582\" height=\"760\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-61.jpg 420w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-61-229x300.jpg 229w\" sizes=\"(max-width: 582px) 100vw, 582px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 111:<\/b> <i>Mean Years of Schooling dan Expected Years of Schooling, 2010<\/i><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> Di sisi yang lain, di Gambar 111,<\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Expected Years of Schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> dan <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Mean Years of Schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> membentuk dimensi <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Education Inde<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">x sebagai satu di antara tiga dimensi <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Human Development Index<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">, menunjukkan berapa persen suatu penduduk suatu wilayah menjalaninya. Misal di suatu wilayah pendidikan tertinggi adalah Universitas, maka akan ditempuh waktu 9+3+3+5 tahun atau 20 tahun untuk menempuhnya. Bila rata-rata penduduk di wilayah tersebut hanya belajar sembilan tahun atau sampai jenjang SMP secara rata-rata maka nilai <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Expected Years of Schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> adalah 10\/20 atau 50%. Dengan demikian, semakin tinggi % <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Expected years of Schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> maka semakin tinggi jenjang pendidikan yang bisa dijalani<\/span><span style=\"font-family: sans-serif, 'Times New Roman';\"><span style=\"font-size: small;\">. <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Expected Years of Schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> di setiap provinsi di Indonesia itu menggunakan parameter provinsi, maka parameter % itu bisa diperbandingkan antar provinsi. Dua <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>outliers<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> negatif NTB 81.05% dan Papua 75.6% bisa diperbandingkan dengan tetangga provinsi bukan <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>outliers<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> yaitu NTT 88.59% dan Papua Barat 93.19% untuk memperoleh gambaran mengenai parameter provinsi yang digunakan.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> Secara nasional, menurut HDR, <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Expected Years of Schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> Indonesia adalah 13.2 tahun atau sekitar 13.2\/20 = 67% atau sekitar SMA. Ini konsisten dengan data angkatan kerja dan data usia &gt; 15 tahun yang bekerja di berbagai industri. Bagaimanapun juga, data <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>Expected years of Schooling<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> ini bisa memberi gambaran mengenai implementasi kebijakan pendidikan setelah merdeka 67 tahun, yaitu pemerataan pendidikan itu masih rendah.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame13\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-62.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-723\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-62.jpg\" alt=\"Screenshot-62\" width=\"667\" height=\"602\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-62.jpg 667w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-62-300x270.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 667px) 100vw, 667px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 112:<\/b> HDI dan NER SD dan SMA 2010<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Namun demikian, Gambar 112 memberi gambaran yang menyesakkan dada. Ternyata, NER rendah itu hanya terjadi hanya di tingkat SD dengan rata-rata NER 94% dan standard deviasi 3.5. namun, ketika jenjang pendidikan semakin tinggi maka deviasi kian melebar, artinya jumlah anak-anak dan generasi muda yang memperoleh pelayanan pendidikan semakin berkurang. Di jenjang SMP, NER rata-rata 65.3%, atau ada 35.7% seusia mereka tidak sekolah, dengan standard deviasi 7.9. Sedang di SMA, NER rata-rata 46.7, atau ada 53.3% anak Indonesia seusia mereka tidak sekolah, dengan standard deviasi 7.9.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Bila analisis NER itu dikaitkan dengan analisis ketersediaan perangkat keras seperti kelas dan sekolah serta Guru yang lebih menitik beratkan pendidikan di tingkat dasar Gambar 104 dan Gambar 105, maka hasil NER itu wajar dan menunjukkan bahwa NER seperti itu adalah hasil implementasi kebijakan pemerintah.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Dengan demikian, pendidikan yang membangun peradaban, dan bukan peradaban yang membangun pendidikan. Melalui pendidikan, setiap generasi baru lahir untuk membangun peradabannya yang lebih baik. Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa pendidikan adalah pembudayaan, budi daya terhadap jiwa yang telah masak. Sangat jelas bahwa pendidikan berperan dalam menghasilkan output sosial positif.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Menarik kesimpulan dari berbagai fenomena dan analisis data di bagian pertama analisis ini :<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Strategi dan kebijakan bidang Pendidikan bersama-sama dengan strrategi dan kebijakan bidang pertahanan dan keamanan, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat bersama-sam untuk membangun bangsa. Namun, integrasi jaringan strategi dan kebijakakan yang mengindonesia belum terjadi, paling sedikit tampak dari ketimpangan dan kesenjangan.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Jumlah penduduk sebagian besar di desa dan miskin.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Proporsi jumlah pendidikan formal dan jumlah guru masih belum mencerminkan strategi dan kebijakan pendidikan nasional seperti Wajib Belajar sembilan tahun dan pemerataan pendidikan formal.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin besar proporsi jumlah kelas dan jumlah guru swasta. Ini secara implisit mencerminkan kebijakan pemerintah seperti diungkap oleh Carnoy dan Tores.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Ada relasi antara pendidikan, pengangguran, dan tindak pidana<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Dalam skala keluarga, orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya maka anak-anak akan tumbuh dan berkembang di luar bentangan yang direntang serta arah busur anak panah yang diarahkan oleh orang tuanya. Demikan pula anak-anak bangsa, ketika negara tidak memperhatikan pendidikan anak-anak bangsa maka mereka bukan akan menjadi pewaris bangsa yang memiliki identitas, jiwa, dan karakter bangsanya. <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<ol start=\"4\">\n<li>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><a name=\"__RefNumPara__40122_989308134\"><\/a> <span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i><b>Illiteracy<\/b><\/i><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>Illiterate<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> atau tingkat kemampuan untuk membaca akan menandai sejauh mana seseorang mampu memahami dan memaknai informasi tertulis. Kondisi Indonesia menurut data Susenas yang ditayangkan pada Gambar 113, tingkat illiteracy adalah 33.4 juta jiwa dengan distribusi terbesar ada pada usia &gt; 45 tahun sebanyak 18.25 juta. Bila dihitung dari tahun 2012, maka mereka masuk dalam <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>cohort<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> 60-an. Artinya, mereka lahir di masa pergantian rezim Soekarno ke Soeharto. Sebaran <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>Illiterate<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> terkecil adalah 1.71 juta pada usia 15-44 tahun, atau <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>cohort<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> 70 an bila dihitung dari 2012. Artinya mereka lahir di masa pemerintahan rezim Soeharto. Sisanya adalah usia &gt; 10 th dan &gt; 15 th yang masuk ke <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>cohort<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> 90 an dan 2000-an, bila dihitung dari 2012. Fenomena <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>illiteracy<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> pada <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>cohort<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> ini cukup menarik ketika jumlahnya semakin besar. Artinya, mereka semakin tidak terpelajar dan jumlahnya bila digabung mendekati <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>illiteracy<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> pada usia &gt;45. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-63.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-725\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-63.jpg\" alt=\"Screenshot-63\" width=\"498\" height=\"411\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-63.jpg 498w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-63-300x247.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 498px) 100vw, 498px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 113: <\/b>lliteracy rate<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> Selanjutnya, menunjukkan prosentase<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i> illiteracy<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> di setiap provinsi dengan rata-rata 16.2% dan standard deviasi \u00b1 10.2. Provinsi Jawa Barat, satu dari tiga provinsi kantung kemiskinan di Jawa ternyata memiliki <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>illiteracy<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>rate<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> di bawah rata-rata nasional, yaitu 11.54% cukup rendah dibanding <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>illiteracy rate<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> Jawa Tengah 23.52% dan jawa Timur 26.22% yang juga sebagai kantung kemiskinan di Jawa justru di atas<\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i> Illiteracy rate<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> nasional. Yang menarik, Sulawesi Utara justru memiliki <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>Illiteracy rate<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> yang rendah, yaitu 1.43% dan DKI sebagai pembanding adalah 2.7%. Artinya Sulawesi Utara lebih rendah dari DKI. DIY yang dijuluki kota pendidikan ternyata diatas rata-rata nasional, yaitu 21.95%. Hanya 11 provinsi yang memiiliki <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>illiteracy rate<\/i><\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> dibawah rata-rata nasional, atau sekitar 30%. Indonesia Wilayah Timur tetap saja kurang diperhatikan setelah 67 tahun merdeka.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame74\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-64.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-726\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-64.jpg\" alt=\"Screenshot-64\" width=\"974\" height=\"466\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-64.jpg 974w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-64-300x143.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 974px) 100vw, 974px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 114: <\/b><i>Illiterate di setiap Provinsi<\/i><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Tema besar pendidikan dalam membangun bangsa adalah mencerdaskan kehidupan bangsa guna memajukan kesejahteraan umum. Sejak 1900 Dr Wahidin Soedirohoesodo telah berpikir mengenai pendidikan bangsanya agar tidak terbelakang. Bagaimana korelasi antara upaya dalam bidang pendidikan, kemiskinan, dan pengangguran ? Table 4 menayangkan <i>multiple correlation<\/i> variabel pendidikan dan kesejahteraan yang terdiri dari enam variabel: [1] <i>Expected Years of Schooling<\/i>, [2] <i>Mean Years of Schoolin<\/i>g, [3] <i>NER elementary School<\/i>, [4] <i>NER Junior High Scgool<\/i>, [5] <i>Senior High Scgool<\/i>, [6] <i>Illiteracy<\/i>, dan dua variabel kesejahteraan : [7] Kemiskinan, [8] Pengangguran. Dalam hal ini <i>Illiteracy<\/i> tidak lepas hubungannya dengan variabel 1-5.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Yang pertama, <i>Illiteracy <\/i>berkorelasi negatif dengan seluruh sisa variabel pendidikan yang dipilih. Ini masuk akal, namun sekaligus menjelaskan bahwa Pendidikan dasar provinsi-provinsi para <i>outliers<\/i> dan di Gambar 115 Gambar 114 masih tertinggal dibanding provinsi lain. Juga, Kemiskinan berkorelasi negatif dengan seluruh variabel pendidikan, termasuk <i>Illiteracy<\/i> yang berkorelasi positif dengan Kemiskinan yang berarti ketika jumlah yang tidak berpendidikan semakin tinggi maka tingkat Kemiskinan juga semakin tinggi.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Yang ke dua, sebuah fenomena menarik ketika Pengangguran berkorelasi positif dengan seluruh variabel yang berhubungan dengan pendidikan, yaitu VAR00001 \u2013 VAR00005. Hal itu menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai vvariabel-variabel terebut maka semakin tinggi jumlah pengangguran. Ini terlihat tidak logis. Namun kalau dicermati, korelasi positif Spearman sangat lemah yaitu 0.07 terjadi antara Pengangguran dengan VAR00002 <i>Mean Years of Schooling<\/i> dan VAR00005 <i>Senior High School.<\/i><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame14\" dir=\"LTR\">\n<div id=\"Frame15\" dir=\"LTR\"><\/div>\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-65.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-727\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-65.jpg\" alt=\"Screenshot-65\" width=\"601\" height=\"649\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-65.jpg 537w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-65-277x300.jpg 277w\" sizes=\"(max-width: 601px) 100vw, 601px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Table 4:<\/b> Pendidikan, Kemiskinan, dan Pengangguran<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"CENTER\">\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Di sisi yang lain, korelasi positif Spearman cukup kuat terjadi antara Pengangguran dengan VAR00004 <i>Junior High School<\/i> 0.41 dan VAR00003 <i>elementary School<\/i> 0.28. Hal ini memberi pesan bahwa semakin banyak <i>Junior High School <\/i>dan <i>Elementary School<\/i> tidak akan membuat pengangguran turun. Dengan kata lain, terjadi ketidak-cocokan antara angkatan kerja dan kebutuhan. Itulah sebabnya <i>Mean Years of Schooling<\/i> dan <i>Senior High School<\/i> memiliki korelasi positif sangat lemah., karena bukan hanya kedua variabel itu berhubungan positif sangat kuat, namun juga karena pasar angkatan kerja membutuhkan jenjang yang lebih tinggi namun tidak tersedia. Lagi, ini menjadi catatan negatif mengenai implementasi kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan ketika sangat jelas ada ketimpangan penyediaan sarana dan prasana pendidikan baik antar jenjang pendidikan maupun antar provinsi.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Bila pola hubungan antara<i> Education Index<\/i> dengan Kemiskinan dituangkan ke dalam <i>perceptual map<\/i>, maka semakin tampak jelas bahwa semakin besar nilai <i>Expected Years of Schooling<\/i>, maka semakin rendah kemiskinan, Gambar 115.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000080;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<div id=\"Frame16\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-66.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-729\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-66.jpg\" alt=\"Screenshot-66\" width=\"624\" height=\"554\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-66.jpg 624w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-66-300x266.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 115:<\/b> Kemiskinan vs Expected Years of Schooling <\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p><span style=\"color: #000080;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Sangat jelas, dan sangat menonjol, bahwa tiga provinsi kantung kemiskinan itu yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat dalam posisi berurutan di mana Jawa Timur dengan tingkat kemiskinan paling tinggi dan <i>Expected Years of Schooling <\/i>paling rendah di antara ke tiga provinsi kantung kemiskinan tersebut. Di sisi yang lain, Jawa Barat dengan tingkat kemiskinan paling rendah di antara ketiga provinsi tersebut ditandai oleh <i>Expected Years of Schooling<\/i> tertinggi di antara ketiga provinsi tersebut. Sedang, Jawa Tengah berada di antara ke dua provinsi tetangga tersebut.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Juga, pengelompokan <i>cluster<\/i> provinsi di sekitar garis regresi menunjukkan pola yang cenderung turun. Papua diujung paling rendah nilai <i>Expected Years of Schooling, <\/i>meskipun jumlah kemiskinan bukan yang tertinggi dan penyimpangan yang besar dari garis regresi, adalah awal pola dan Sulawesi Utara di paling ujung paling tinggi nilai <i>Expected Years of Schooling <\/i>adalah akhir pola yang bisa ditarik garis dan menjelaskan hubungan negatif antara pendidikan yang bisa dicapai dengan kemiskinan.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Di sisi dimensi <i>Education Index<\/i> dari indikator yang lain, yaitu <i>Mean Years of Schooling<\/i>, pola hubungan antara Kemiskinan dengan <i>Mean Years of Schoolin<\/i>g itu juga negatif, Gambar 117. Tiga provinsi kantung kemiskinan di Indonesia itu juga berpola sama. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat dalam posisi berurutan di mana Jawa Timur dengan tingkat kemiskinan paling tinggi dan <i>Mean Years of Schooling <\/i>paling rendah di antara ke tiga provinsi kantung kemiskinan tersebut.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Di sisi yang lain, Jawa Barat dengan tingkat kemiskinan paling rendah di antara ketiga provinsi tersebut ditandai oleh Mean Years of Schooling tertinggi di antara ketiga provinsi tersebut. Sedang, Jawa Tengah berada di antara ke dua provinsi tetangga tersebut.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame17\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-67.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-730\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-67.jpg\" alt=\"Screenshot-67\" width=\"626\" height=\"462\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-67.jpg 626w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Screenshot-67-300x221.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 626px) 100vw, 626px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 116:<\/b> Kemiskinan vs Mean Years of Schooling<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000080;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Papua tetap berada di paling rendah nilai <i>Mean Years of Schooling<\/i> dan di ujung lain dengan nilai tertinggi <i>Mean years of Schooling<\/i> adalah provinsi DKI. Cluster provinsi yang dibentuk oleh variabel Kemiskinan dan Mean Years of Schooling itu membentuk arah menurun yang jelas. Artinya semakin rendah <i>Mean Years of Schooling<\/i> semakin tinggi tingkat Kemiskinan. Sebagai tambahan, ketiga provinsi kantung kemiskinan itu bersifat kingkong effect, bila datanya diabaikan maka nilai koefisien determinasi akan semakin baik sehingga <i>variance<\/i> yang tidak bisa dijelaskan juga akan berkurang. Terbukti bahwa pendidikan adalah sarana untuk memajukan kesejahteraan umum sesuai dengan amanat konstitusi di Pembukaan UUD 1945. Seperti Dr Wahidin telah memulai dengan pendidikan kaum pribumi sejak 1900.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><span style=\"color: #000080;\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\"><span style=\"color: #000080;\">*<\/span><\/a>Kemendiknas, Guru Negeri dan Swasta<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote2\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><span style=\"color: #000080;\"><i><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote2anc\" name=\"sdfootnote2sym\"><span style=\"color: #000080;\">*<\/span><\/a>Statistical Process Controll technical note.<\/i><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p><span style=\"color: #000080;\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendidikan Indonesia, sesuai dengan amanat konstitusi, mempunyai misi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa guna memajukan kesejahteraan umum. Sesuai dengan amanat konstitusi, Pendidikan mencakup tiga bidang utama yang saling berkaitan yaitu: Perangkat keras, yaitu sarana dan prasarana pendidikan Perangkat lunak yaitu isi yang sesuai dengan tujuan pembangunan bangsa dan negara. Pendidik, yaitu mereka yang memberikan isi dan &hellip; <a href=\"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=698\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Masalah Pendidikan Indonesia :   PENDIDIKAN<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":732,"parent":590,"menu_order":1,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_links_to":"","_links_to_target":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/698"}],"collection":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=698"}],"version-history":[{"count":12,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/698\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":737,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/698\/revisions\/737"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/590"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/732"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=698"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}