{"id":584,"date":"2014-09-14T01:11:30","date_gmt":"2014-09-14T01:11:30","guid":{"rendered":"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=584"},"modified":"2014-12-30T01:20:24","modified_gmt":"2014-12-30T01:20:24","slug":"warga-sejati-sebuah-gegayuhan-atau-foresight","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=584","title":{"rendered":"Warga Sejati, Sebuah Gegayuhan atau Foresight"},"content":{"rendered":"<ol type=\"a\">\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"zxx\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Warga Sejati, Sebuah Gegayuhan <\/b><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"zxx\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Sebelum UU Pendidikan NKRI yang pertama keluar, rumusan tujuan pendidikan menurut Panitia Penyelidik Pengajaran di bawah pimpinan Ki Hajar Dewantara dengan penulis Soegarda Poerbakawatja adalah<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>*<\/sup><\/a>:<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"color: #000000;\">\u201c<\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span lang=\"zxx\"><i><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', serif;\"><span style=\"font-size: small;\">Mendidik warga negara yang sejati, sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk warga negara dan masyarakat.\u201d<\/span><\/span><\/span><\/i><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: medium; font-family: 'Liberation Serif', serif; color: #000000; line-height: 1.5;\">Pengertian \u201cwarga yang sejati\u201d itu kemudian dijabarkan sifat-sifatnya dalam pedoman bagi guru-guru yang dikeluarkan oleh Kementerian PP dan K pada tahun 1946, yaitu:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li value=\"1\">\n<p class=\"western\">Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Cinta kepada alam.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Cinta kepada negara.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Cinta dan hormat kepada ibu-bapak.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Cinta kepada bangsa dan kebudayaan.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Keterpanggilan untuk memajukan negara sesuai kemampuannya.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Memiliki kesadaran sebagai bagian integral dari keluarga dan masyarakat.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Patuh pada peraturan dan ketertiban.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Mengembangkan kepercayaan diri dan sikap saling hormati atas dasar keadilan.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\">Rajin bekerja, kompeten dan jujur baik dalam pikiran maupun tindakan.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"line-height: 1.5;\">Sepuluh Pedoman Guru tersebut kemudian menjadi Visi para Guru Indonesia untuk mendidik Warga Sejati. Maka, pemerintah pada saat itu sudah menyadari betapa strategis peran Guru dalam mendidik anak bangsa. Guru menjadi salah satu penentu masa depan bangsa, sebuah peran yang sangat strategis dalam Pendidikan untuk membangun bangsa.<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">Dalam hal ini, Ki Hadjar membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Ibarat bibit dan buah. Pendidik adalah petani yang akan merawat bibit dengan cara menyiangi hulma disekitarnya, memberi air, memberi pupuk agar kelak berbuah lebih baik dan lebih banyak, namun petani tidak mungkin mengubah bibit mangga menjadi berbuah anggur. Itulah kodrat alam atau dasar yang harus diperhatikan dalam Pendidikan dan itu diluar kecakapan dan kehendak kaum pendidik. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin. Disamping itu, Pengajaran yang tidak berdasarkan semangat kebudayaan dan hanya mengutamakan intelektualisme dan individualisme yang memisahkan satu orang dengan orang lain hanya akan menghilangkan rasa keluarga dalam masyarakat di Seluruh Indonesia yang sesungguhnya dan menjadi pertalian suci dan kuat serta menjadi dasar yang kokoh untuk mengadakan hidup tertib dan damai. Tiga butir penting Pengajaran Rakyat menurut Ki Hadjar:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">Pengajaran rakyat harus bersemangat keluhuran budi manusia, oleh karena itu harus mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"line-height: 1.5;\">\u00a0<\/span><span style=\"font-size: small;\">Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kecerdasan budi pekerti , jaitu masaknya jiwa seutuhnya atau <\/span><span style=\"font-size: small;\"><i>character building.<\/i><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-size: small;\">Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah kekeluargaan, yaitu merasa bersama-sama hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tangung jawab mulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Jangan sampai di sistem sekolah umum sekolah menjauhkan anak dari alam keluarganya dan alam rakyatnya. <\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<div id=\"Frame38\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Warga-Sejati.jpg\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-585\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Warga-Sejati.jpg\" alt=\"Warga Sejati\" width=\"600\" height=\"451\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Warga-Sejati.jpg 600w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/Warga-Sejati-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/a><br \/>\n<b style=\"font-size: medium; line-height: 1.5;\">Gambar 39:<\/b><i style=\"font-size: medium; line-height: 1.5;\"> <\/i><span style=\"font-size: medium; line-height: 1.5;\">Warga Sejati<\/span><\/p>\n<\/div>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">Oleh karena itu, istilah pendidikan karakter itu sebenarnya hanya satu makna yaitu <\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>nation and character building, <\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">dan tidak ada makna lain selain mendidik <\/span><span style=\"color: #000000;\"><b>Warga Sejati, Gambar 36<\/b><\/span><span style=\"color: #000000;\">. Tidak ada makna yang lain atau pemikiran yang lain dari para <\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>founding fathers<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\"> selain dari pada itu.<\/span><span style=\"color: #000000;\"> Pendidikan yang dipikirkan oleh para <\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>founding fathers<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\"> pada saat itu sudah sampai pada pemikiran mengenai bagaimana harus :<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">Mempersatukan bangsa yang beragam melalui Pendidikan dengan menjadi satu jiwa perekat bangsa.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">Membangun <i>firewall<\/i> untuk membendung berbagai anasir anti NKRI.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">Menyemai serum anti NKRI kepada anak dan generasi muda.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">yang satu jiwa, satu bangsa sesuai dengan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 dengan dasar negara Pancasila dan haluan negara Bhinneka Tunggal Ika serta semangat gotong royong untuk membangun bangsa. Atau dengan kata lain, para <\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>founding fathers<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\"> telah menjabarkan Visi bangsa yang sesuai dengan konstitusi kedalam visi Pendidikan untuk membangun bangsa. <\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\"><span lang=\"id-ID\">Bila digambarkan kedalam sebuah rumah, Gambar 36, Warga Sejati adalah fondasi yang kokoh bagi pembangunan bangsa dan itu dihasilkan dalam proses pendidikan dimana Guru bukan hanya memegang pernan vital dalam proses pendidikan, juga mempunyai pedoman bagaimana mendidik Warga Sejati sesuai dengan tiga butir pengajaran rakyat yang memperhatikan [1] Semangat idealisme, [2] Kecerdasan Budi Pekerti, dan [3] Alam Keluaraga dan Alam Rakyat. Jadi, Warga Sejati bukan hanya sasaran minimum yang diperlukan, namun juga sasaran optimal sesuai dengan gegayuhan Pendidikan untuk membangun bangsa Indonesia. <\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"Frame39\" dir=\"LTR\">\n<p align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/10-pedoman-guru_b1.png\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter  wp-image-537\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/10-pedoman-guru_b1.png\" alt=\"10 pedoman guru_b1\" width=\"506\" height=\"475\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/10-pedoman-guru_b1.png 600w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/10-pedoman-guru_b1-300x281.png 300w\" sizes=\"(max-width: 506px) 100vw, 506px\" \/><\/a><\/p>\n<p align=\"CENTER\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Gambar 40:<\/b><i> Gegayuhan Pendidikan bangsa Indonesia <\/i><\/span><\/p>\n<\/div>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Pilar-pilar rumah itu adalah Panca Darma Ki Hadjar yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan. Lima pilar itu adalah pilar-pilar yang kokoh untuk menyangga atap bangunan dimana Keahlian dalam <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><i>Math, Sciene, Arts, and Reading<\/i><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> adalah blandar sebagai titik tumpu atap adalah gegayuhan Pendidikan Bangsa Indonesia, yaitu warga yang cedas dan patriotik yang \u201ctedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda\u201d dan siap menghadapi perubahan namun tidak akan pernah goyah oleh perubahan itu.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">*<\/a>PPPRI, 1946<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warga Sejati, Sebuah Gegayuhan Sebelum UU Pendidikan NKRI yang pertama keluar, rumusan tujuan pendidikan menurut Panitia Penyelidik Pengajaran di bawah pimpinan Ki Hajar Dewantara dengan penulis Soegarda Poerbakawatja adalah*: \u201cMendidik warga negara yang sejati, sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk warga negara dan masyarakat.\u201d Pengertian \u201cwarga yang sejati\u201d itu kemudian dijabarkan sifat-sifatnya dalam pedoman bagi &hellip; <a href=\"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=584\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Warga Sejati, Sebuah Gegayuhan atau Foresight<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":15,"menu_order":5,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_links_to":"","_links_to_target":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/584"}],"collection":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=584"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/584\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":587,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/584\/revisions\/587"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/15"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=584"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}