{"id":391,"date":"2014-08-31T04:19:07","date_gmt":"2014-08-31T04:19:07","guid":{"rendered":"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=391"},"modified":"2014-09-23T23:07:25","modified_gmt":"2014-09-23T23:07:25","slug":"tritunggal-2","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=391","title":{"rendered":"Tritunggal"},"content":{"rendered":"<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\">Dalam alinea ke dua pembukaan UUD 1945 tercantum tujuan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia yaitu pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&#8221; Itulah tujuan kemerdekaan menurut proklamasi 17 Agustus 1945.<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\">Pembangunan sebuah bangsa tidak akan pernah lepas dari pendidikan untuk menyemai ke dua jawaban terhadap pertanyaan Mr Soepomo tersebut kepada setiap generasi agar operasional dalam kehidupan dan membentuk modal sosial bangsa guna mewujudkan cita-cita proklamsi 17 Agustus 1945. Muara dari paham Integralistik adalah <i>passion<\/i> tiga bapak Bangsa yaitu Soekarno-Ideologi Bangsa, Muhammad Hatta-Ekonomi Bangsa, dan Ki Hadjar Dewantara-Pendidikan Bangsa. Dari proposi manapun ketiga pemikiran bapak bangsa tersebut salng berhubungan.<\/p>\n<ol>\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span lang=\"id-ID\">Dalam hal ini, Ki<\/span><span lang=\"id-ID\"> Hadjar Dewantara, yang juga menjadi anggota BPUPKI, sudah berpikir mengenai pendidikan untuk membangun bangsa me<\/span><span lang=\"id-ID\">lalui pendidikan jauh sebelum BPUPKI dibentuk, yaitu sejak Ki Hadjar pulang dari pembuangan di Belanda sebagai aktifis perjuangan melalui Taman Siswa sejak 1922. Rentang waktu 23 tahun dari tahun 1922 hingga 1945 merupakan rentang waktu panjang bagi Ki Hadjar untuk terus menerus memikirkan pendidikan bagi bangsanya dalam dinamika perjuangan dengan kaum republik seperti tertuang di buku I dan II Ki Hadjar Dewantara yang diterbitkan oleh Majelis Luhur Taman Siswa. Sehingga bisa dipahami kalau pemikiran Ki Hadjar sejalan dengan pemikiran para pejuang republik dan mewarnai bukan hanya PPPRI di jaman menteri pendidikan Mr. Soewandi dimana Ki Hadjar duduk sebagai ketua, namun juga UU Pendidikan pertama No 4 Th 1950 Jogja ketika Ki Mangunsarkara menjadi menteri pendidikan.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Disamping itu, filosofi dan ideologi bangsa yang menjelma kedalam konstitusi itu menjadi ciri bangsa dan sekaligus menjadi\u00a0<i>Political Philosophy<\/i>. Penelitian Hofstede<a class=\"sdfootnoteanc\" style=\"color: #bc360a;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=386#sdfootnote17sym\" name=\"sdfootnote17anc\"><sup>17<\/sup><\/a>\u00a0mengenai lima dimensi budaya di berbagai negara, termasuk Indonesia<a class=\"sdfootnoteanc\" style=\"color: #bc360a;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=386#sdfootnote18sym\" name=\"sdfootnote18anc\"><sup>18<\/sup><\/a>, menunjukkan bahwa : Indonesia<i>has Power Distance<\/i>\u00a0(PDI)<i>\u00a0as its\u00a0<\/i><i>highest<\/i><i>ranking Hofstede Dimension at<\/i>\u00a078.\u00a0<i>The average Power Distance for the greater Asian countries is\u00a0<\/i>71. Artinya, ketidakseimbangan kekuasaan dan kesejahteraan dalam masyarakat cukup tinggi. Dalam kehidupan bermasyarakat, itu bukan berarti menjadi masalah namun cukup diterima di masyarakat sebagai bagian dari mereka dan\u00a0<i>cultural heritage<\/i>.<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\"><i>The second highest Hofstede ranking for Indonesia is Uncertainty Avoidance (UAI) at 48, compared to the greater Asian average of 58 and a world average of 64<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">. Semakin tinggi nilai UAI maka semakin rendah toleransi masyarakat. Jadi, masyarakat Indonesia dibanding rata-rata bangsa Asia dan dunia lebih toleran.<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\"><i>Indonesia has one of the lowest world rankings for Individualism<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a0(IDV)\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>with a<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a014, c<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>ompared to the greater Asian rank of\u00a0<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">23,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>and world rank of<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a043. Angka tersebut menjelaskan Gambaran mengenai bangsa Indonesia yang lebih choletivistic bila dibanding individualistic. Ini menjelaskan mengapa paham integralistik Soepomo yang dipilih. Jadi, Hofstede menandai budaya bangsa Indonesia sangat toleran dan sangat kolektivisttik serta menghendaki semangat kebersamaan.<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><i>General Characteristics<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>Significant Values\u00a0<\/i>pada\u00a0<i>High Context Macrosystem<\/i>\u00a0dalam model sistem ekologi perkembangan anak dan orang dewasa Uri Bronfenbrenner<a class=\"sdfootnoteanc\" style=\"color: #bc360a;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=386#sdfootnote19sym\" name=\"sdfootnote19anc\"><sup>19<\/sup><\/a>\u00a0menjelaskan bagaimana ke dua parameter tersebut menjadi unsur dominan dalam budaya collective, toleransi, dan mudah menerima budaya asing.<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><a style=\"color: #bc360a;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall.png\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-222\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall.png\" alt=\"Hall\" width=\"600\" height=\"326\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall.png 600w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall-300x163.png 300w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/a><\/p>\n<p class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\">In a 1983 essay\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\">Clifford Geertz<a class=\"sdfootnoteanc\" style=\"color: #bc360a;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=386#sdfootnote20sym\" name=\"sdfootnote20anc\"><sup>20<\/sup><\/a>\u00a0points to the importance of gotong royong in Indonesian life:<\/span><\/p>\n<p class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\"><i>An enormous inventory of highly specific and often quite intricate\u00a0<\/i><i>institutions for effecting the cooperation in work, politics, and personal relations alike, vaguely gathered under culturally charged and fairly well indefinable value-images\u2013rukun (\u201cmutual adjustment\u201d), gotong royong (\u201cjoint bearing of burdens\u201d), tolong-menolong (\u201creciprocal assistance\u201d)\u2013governs social interaction with a force as sovereign as it is subdued.<\/i><\/span><\/p>\n<p class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\">Anthropologist Robert A. Hahn<a class=\"sdfootnoteanc\" style=\"color: #bc360a;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=386#sdfootnote21sym\" name=\"sdfootnote21anc\"><sup>21<\/sup><\/a>\u00a0writes:<\/span><\/p>\n<p class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\"><i>Javanese culture is stratified by social class and by level of adherence\u00a0<\/i><i>to Islam. \u2026Traditional Javanese culture does not emphasize material wealth. \u2026There is respect for those who contribute to the general village welfare over personal gain. And the spirit of gotong royong, or volunteerism, is promoted as a cultural value.<\/i><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\">Jadi, pendapat Clifford Geertz dan Robert A. Hahn, yang membahas\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>Socio Democracy<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">Soekarno yang dikatakan bukan sebagai demokrasi ala barat namun\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>mutual adjustment<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>join bearing of burden<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>voluntarism<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a0dan<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>\u00a0the Spirit of<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a0\u201cGotong Royong\u201d sebagai\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>cultural value,<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">semakin menjelaskan hubungan antara budaya toleran dan kolektivitistik Hofstede dengan penilaian Clifford Geertz dan Robert A Hahn serta Urie Brofnenebefnner mengenai nilai Gotong Royong dalam Pancasila sebagai\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>Political Philosophy<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">. Tampak pengaruh filsafat idealism disini.<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"JUSTIFY\">Oleh karena itu,\u00a0<i>Political Philosophy<\/i>\u00a0NKRI itu sebenarnya merupakan\u00a0<i>Value System<\/i>\u00a0bangsa Indonesia yang sering dikatakan sebagai kristalisasi nilai-nilai bangsa ,\u00a0<i>The Way of Life\u00a0<\/i>bangsa Indonesia dimana\u00a0<i>living in harmony<\/i>,\u00a0<i>diversity within unity<\/i>\u00a0adalah ciri yang bisa dilihat dan ditandai yang berasal dari kehendak diri untuk mewujudkan. Jadi, sifatnya wajib dan merupakan kesadaran bersama. <span style=\"background-color: #ffff00;\">Pendidikan sebagai estafet peradaban antar generasi memegang peranan sangat menentukan dalam kelangsungan bangsa dan negara ini sesuai dengan konsitusi<\/span>. Bangsa ini telah memulai berpikir mengenai hidup rukun, paling sedikit seperti dalam kakawin Sutosoma, sejak abad ke delapan, ataupun sebelum dalam konflik panjang Syailendra dan Sanjaya di Medang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam alinea ke dua pembukaan UUD 1945 tercantum tujuan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia yaitu pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&#8221; Itulah tujuan kemerdekaan menurut proklamasi 17 Agustus 1945. Pembangunan sebuah bangsa tidak akan pernah lepas dari pendidikan untuk menyemai ke dua jawaban terhadap pertanyaan Mr Soepomo tersebut kepada setiap &hellip; <a href=\"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=391\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Tritunggal<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":33,"menu_order":3,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_links_to":"","_links_to_target":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/391"}],"collection":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=391"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/391\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":401,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/391\/revisions\/401"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/33"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=391"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}