{"id":382,"date":"2014-08-31T03:46:38","date_gmt":"2014-08-31T03:46:38","guid":{"rendered":"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=382"},"modified":"2014-10-28T22:54:40","modified_gmt":"2014-10-28T22:54:40","slug":"382-2","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=382","title":{"rendered":"Paradigma Pendidikan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-size: 14pt;\"><b>Paradigma Pendidikan Indonesia <\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Mr. Soepomo dalam Sidang BPUPKI, 31 Mei 1945 mengemukakan teori <em class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\">Negara ditinjau dari segi integritas antara pemerintah dengan rakyat, yaitu <\/span><\/em>tiga teori mengenai hubungan negara dengan rakyatnya, yaitu :<\/p>\n<ul>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><strong class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Individualisme<\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Diajarkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), J.J. Rousseau (1712-1778), Herbert Spencer (1820-1903), Harold J. Laski (1839-1950).<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Teori ini menganggap negara sebagai masyarakat hukum yang disusun berdasarkan perjanjian antara setiap pribadi (individu) yang menjadi anggota masyarakat itu. Karena merupakan perjanjian antarpribadi, maka yang diutamakan dalam setiap kegiatan negara adalah kepentingan dan kebebasan pribadi sehingga kepentingan seluruh warga negara kurang diperhatikan.<\/p>\n<ol>\n<ul>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><strong class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Kelas (golongan)<\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/ol>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Diajarkan oleh Karl Marx (1818-1883), Frederick Engels (1820-1895), V.I. Lenin (1870-1924).<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Teori ini menganggap negara sebagai alat dari suatu golongan atau kelas ekonomi kuat yang menindas golongan ekonomi lemah. Maka Karl Marx menganjurkan revolusi kaum buruh untuk merebut kekuasaan negara dari kaum kapitalis dan balas menindas mereka. Baginya tiada tempat dalam negara untuk kepentingan pribadi. Teori ini mendasari komunisme yang dianut dalam bentuk diktatur proletariat.<\/p>\n<ul>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><strong class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Integralistik<\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Diajarkan oleh Benedictus de Spinoza (1632-1677), Adam Muller (1799-1829), Friedrich Hegel (1770-1831).<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Menurut teori integralistik, negara adalah susunan masyarakat yang integral: semua anggota masyarakat merupakan bagian dari persatuan organis. Negara tidak memihak kepada golongan yang paling kuat, tidak mengutamakan kepentingan pribadi, melainkan menjamin keselamatan hidup seluruh bangsa sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"background-color: #ffff00;\"><strong class=\"western\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Sidang kemudian memilih teori Integralistik, dan itulah tonggak peradaban baru Indonesia karena teori itu kemudian akan menjadi paham dari berbagai pemikiran mengenai hubungan negara dengan rakyat di negara yang akan didirikan, yaitu Indonesia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\">Menurut teori integralistik, sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. Dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\"><span style=\"color: #000000;\">Selanjutnya, Mr Soepomo membuat pertanyaan lagi, yaitu apakah dasar dari negara yang akan didirikan tersebut.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-family: 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\"> <span style=\"background-color: #ffff00;\"><strong>Jawaban dari pertanyaan tersebut akhirnya bermuara ke Pancasila yang menjadi perekat jiwa bangsa dan secara resmi tercantum dalam konsitusi NKRI 18 Agustus 1945. <\/strong><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span lang=\"id-ID\">Jawaban terhadap dua pertanyaan Mr Seopomo di BPUKI tersebut merupakan gegayuhan <\/span><span lang=\"id-ID\"><i>founding fathers<\/i><\/span><span lang=\"id-ID\"> terhadap bangsa Indoensia di masa yang akan datang setelah mengalami kemerdekaan. Maka, jawaban tersebut adalah maklumat dari <\/span><span lang=\"id-ID\"><i>founding fathers<\/i><\/span><span lang=\"id-ID\"> bagi bangsa Indonesia yang telah menemukan raganya, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebuah pemikiran mengenai tata negara dan sekaligus pembangunan bangsa.<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\">Dalam alinea ke dua pembukaan UUD 1945 tercantum tujuan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia yaitu pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.&#8221; Itulah tujuan kemerdekaan menurut proklamasi 17 Agustus 1945.<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\">Pembangunan sebuah bangsa tidak akan pernah lepas dari pendidikan untuk menyemai ke dua jawaban terhadap pertanyaa Mr Soepomo tersebut kepada setiap generasi agar operasional dalam kehidupan dan membentuk modal sosial bangsa guna mewujudkan cita-cita proklamsi 17 Agustus 1945.<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\">Dalam hal ini, Ki Hadjar Dewantara, yang juga menjadi anggota BPUPKI, sudah berpikir mengenai pendidikan untuk membangun bangsa melalui pendidikan jauh sebelum BPUPKI dibentuk, yaitu sejak Ki Hadjar pulang dari pembuangan di Belanda sebagai aktifis perjuangan melalui Taman Siswa sejak 1922. Rentang waktu 23 tahun dari tahun 1922 hingga 1945 merupakan rentang waktu panjang bagi Ki Hadjar untuk terus menerus memikirkan pendidikan bagi bangsanya dalam dinamika perjuangan dengan kaum republik seperti tertuang di buku I dan II Ki Hadjar Dewantara yang diterbitkan oleh Majelis Luhur Taman Siswa. Sehingga bisa dipahami kalau pemikiran Ki Hadjar sejalan dengan pemikiran para pejuang republik dan mewarnai bukan hanya PPPRI di jaman menteri pendidikan Mr. Soewandi dimana Ki Hadjar duduk sebagai ketua, namun juga UU Pendidikan pertama No 4 Th 1950 Jogja ketika Ki Mangunsarkara menjadi menteri pendidikan, Gambar 308.<\/p>\n<div id=\"Frame80\" dir=\"LTR\">\n<p lang=\"en-US\" align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-pendidikan.png\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-377\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-pendidikan.png\" alt=\"Paradigma pendidikan\" width=\"625\" height=\"459\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-pendidikan.png 625w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-pendidikan-300x220.png 300w\" sizes=\"(max-width: 625px) 100vw, 625px\" \/><\/a><\/p>\n<p lang=\"en-US\" align=\"CENTER\"><b>Gambar 308: <\/b>Paradigma pendidikan Indonesia<\/p>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"line-height: 1.5; font-size: 14pt;\">Garis Besar Pendidikan<\/span><\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><b>Tujuan Pendidikan Indonesia<\/b><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Sebelum UU Pendidikan NKRI yang pertama keluar, rumusan tujuan pendidikan menurut Panitia Penyelidik Pengajaran di bawah pimpinan Ki Hajar Dewantara dengan penulis Soegarda Poerbakawatja adalah<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>*<\/sup><\/a>:<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"color: #000000;\">\u201c<\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><i><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: small;\">Mendidik warga negara yang sejati, sedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk warga negara dan masyarakat.\u201d<\/span><\/span><\/span><\/i><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Pengertian \u201cwarga yang sejati\u201d itu kemudian dijabarkan sifat-sifatnya dalam pedoman bagi guru-guru yang dikeluarkan oleh Kementerian PP dan K pada tahun 1946, yaitu:<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Cinta kepada alam.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Cinta kepada negara.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Cinta dan hormat kepada ibu-bapak.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Cinta kepada bangsa dan kebudayaan.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Keterpanggilan untuk memajukan negara sesuai kemampuannya.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Memiliki kesadaran sebagai bagian integral dari keluarga dan masyarakat.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Patuh pada peraturan dan ketertiban.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Mengembangkan kepercayaan diri dan sikap saling hormat atas dasar keadilan.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\"><span style=\"font-size: small;\">Rajin bekerja, kompeten dan jujur baik dalam pikiran maupun tindakan.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"> Sepuluh Pedoman Guru tersebut kemudian menjadi Visi para Guru seluruh Indonesia untuk mendidik Warga Sejati. Maka, pemerintah pada saat itu sudah menyadari betapa strategis peran Guru dalam mendidik anak bangsa. Guru menjadi salah satu penentu masa depan bangsa, sebuah peran yang sangat strategis dalam Pendidikan untuk membangun bangsa.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Selanjutnya pengajaran yang tidak berdasarkan semangat kebudayaan dan hanya mengutamakan intelektualisme dan individualisme yang memisahkan satu orang dengan orang lain hanya akan menghilangkan rasa keluarga dalam masyarakat di Seluruh Indonesia yang sesungguhnya dan menjadi pertalian suci dan kuat serta menjadi dasar yang kokoh untuk mengadakan hidup tertib dan damai <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">(Dewantara I, 2004 ). <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Tiga butir penting Pengajaran Rakyat :<\/span><\/p>\n<ul>\n<li>\n<p lang=\"en-US\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Pengajaran rakyat harus bersemangat <b>keluhuran budi manusia<\/b>, oleh karena itu harus mementingkan segala nilai kebatinan dan menghidupkan semangat idealisme.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"en-US\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Pengajaran rakyat harus mendidik ke arah <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><b>kecerdasan budi pekerti<\/b><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"> , jaitu masaknya jiwa seutuhnya atau <\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><i>character building<\/i><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\">Pengajaran rakyat harus mendidik <b>ke arah kekeluargaan<\/b>, yaitu merasa bersama-sama hidup, bersama-sama susah dan senang, bersama-sama tangung jawab mulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Jangan sampai di sistem sekolah umum sekolah menjauhkan anak dari alam keluarganya dan alam rakyatnya. <\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">Oleh karena itu, <strong><span style=\"color: #ff0000;\">Pengajaran dan Pendidikan Nasional harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan bangsa agar semangat cinta bangsa dan tanah air terpelihara<\/span><\/strong>. Dalam hal ini, Ki Hadjar menekankan agar Pendidikan memperhatikan : [1] <\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><b>Kodrat Alam, [2] Kemerdekaan, [3] Kemanusiaan, [4] Kebudayaan, [5] Kebangsaan. <\/b><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">Butir # 1 hingga # 3 bersifat universal mengenai pendidikan, sedang butir # 4 dan # 5 sangat spesifik pendidikan Indonesia sebagai negara bangsa dengan hakekat keberagaman bawaan satu jiwa yang menjadi ruh persatuan dan kesatuan.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">Kodrat alam adalah <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><i>given condition<\/i><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"> bagi anak. <\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. <span style=\"background-color: #ffff00;\">Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">(Dewantara I, 2004).<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"background-color: #ffff00;\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-Pendidikan-Indonesia.png\"><span style=\"background-color: #ffff00;\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-378\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-Pendidikan-Indonesia.png\" alt=\"Paradigma Pendidikan Indonesia\" width=\"559\" height=\"464\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-Pendidikan-Indonesia.png 559w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Paradigma-Pendidikan-Indonesia-300x249.png 300w\" sizes=\"(max-width: 559px) 100vw, 559px\" \/><\/span><\/a><\/span><\/p>\n<p lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau <\/span><\/span><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\">masyarakat (Dewantara II, 1994). Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.<\/span><\/span><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><a name=\"__RefNumPara__78016_9842164\"><\/a> <span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><b>Haluan Pendidikan<\/b><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Sejak pilihan jatuh ke paham integritas, maka sikap bangsa ini sangat jelas ketika di dunia ini ada dua paham yang saling berseberangan, yaitu individualisme dan kelas atau golongan. Paham integritas yang dipilih di BPUPKI jelas bukan gabungan atau sintesa dari dua paham yang berseberangan tersebut. Bebas dalam berpolitik yang muncul dalam konstitusi sebagai politik bebas dan aktif adalah perwujudan semangat kemandirian bangsa. Politik bebas dan aktif itu menghendaki kemandirian bangsa sebagai syarat dan itu hanya bisa dibangun melalui proses pendidikan. <span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Pesan ini sangat jelas bagi Pendidikan Indonesia tanpa perlu harus dijelaskan lagi. Pandai saja tidak cukup, cerdas, mumpuni, dan mencintai bangsa dan negaranya serta sedia mengabdikan dirinya bagi kepentingan bangsa dan negara adalah <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><i><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">necessery condition<\/span><\/span><\/span><\/span><\/i><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span>Politik bebas dan aktif adalah pilihan yang tidak memihak terhadap politik luar negeri. Ke dalam, sebagai konsekuensi logis, <span style=\"background-color: #ffff00;\">pendidikan Indonesia adalah usaha <span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span lang=\"id-ID\"><b>untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.<\/b><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\">Trisakti adalah pidato Soekarno di Sidang Umum MPRS ke-lll pada tanggal 11 April 1965<sup><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote2sym\" name=\"sdfootnote2anc\"><sup>*<\/sup><\/a>**<\/sup> :<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><strong>\u201c<\/strong><span style=\"font-family: 'URW Bookman L', 'Times New Roman';\">Memang, di dalam situasi nasional dan internasional dewasa ini, maka <span style=\"color: #ff0000;\"><strong>Trisakti<\/strong><\/span> kita, yaitu <span style=\"color: #ff0000;\">berdaulat dan bebas dalam politik<\/span>, <span style=\"color: #ff0000;\">berkepribadian dalam kebudayaan<\/span>, <span style=\"color: #ff0000;\">berdikari di bidang ekonomi<\/span>, adalah senjata yang paling ampuh di tangan s<\/span><span style=\"font-family: 'URW Bookman L', 'Times New Roman';\">eluruh rakyat kita, di tangan prajurit-prajurit Revolusi kita, untuk menyelesaikan Revolusi Nasional kita yang maha dahsyat sekarang ini.<\/span><strong><span style=\"font-family: 'URW Bookman L', 'Times New Roman';\"><i>\u201d<\/i><\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"font-size: 12pt; font-family: verdana, geneva;\"><span lang=\"id-ID\">Mengapa <\/span><span lang=\"id-ID\">Tri Sakti<\/span><span lang=\"id-ID\"> harus menjadi haluan pendidikan ? <span style=\"background-color: #ffff00;\">Hakekat Trisakti adalah pemupukan rasa solidaritas bangsa, rasa kemandirian bangsa, rasa kebanggaan bangsa dalam segalam keragaman sehingga rasa itu menjadi pengikat semangat persatuan dan kesatuan bangsa seperti tertera dalam haluan negara Bhinneka Tunggal Ika<\/span>. Jadi, Trisakti adalah muara Bhinneka Tunggal Ika, output dari Bhinneka Tunggal Ika.<\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Ada tiga tahap tujuan pendidikan, yaitu <span style=\"background-color: #ffff00;\">Hamemayu Hayuning Sarira<\/span>, yaitu pendidikan harus bermanfaat bagi dirina sendiri dan keluarga. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff; background-color: #ffff00;\"><span style=\"font-size: small;\"><i><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Hamemayu Hayuning Bongso<\/span><\/span><\/span><\/i><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">, yaitu pendidikan harus bermanfaat bagi bangsanya. <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff; background-color: #ffff00;\"><span style=\"font-size: small;\"><i><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Hamemayu hayuning Bawana<\/span><\/span><\/span><\/i><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">, pendidikan harus bermanfaat bagi dunia. Ketika tahap itu adalah satu kesatuan tujuan pendidikan yaitu <\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"font-size: small;\"><i><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Hamemayu Hayuning Manungso<\/span><\/span><\/i><\/span><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">Oleh karena itu, <span style=\"background-color: #ffff00;\">Trisakti sebagai haluan pendidikan, adalah sebuah ajian sakti <\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff; background-color: #ffff00;\"><span style=\"font-size: small;\"><i><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\">hamemayu hayuning manungso<\/span><\/span><\/span><\/span><\/i><\/span><\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: small;\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-family: 'Liberation Serif', 'Times New Roman', serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span lang=\"id-ID\"><span style=\"background-color: #ffff00;\"> warisan pendahulu republik untuk tetap menjaga semangat proklamasi 17 Agustus 1945 yang berdasar semangat gotong royong<\/span>. Semangat ini harus dipupuk dan dibiasakan sejak dini melalui proses pendidikan <span style=\"color: #ff0000;\">agar pendidikan bermanfaat bagi yang bersangkutan. keluarga, dan bangsanya serta dunia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"id-ID\" align=\"JUSTIFY\"><span style=\"background-color: #ffff00;\">Inilah hakekat ruh bangsa Indonesia dalam wadag NKRI<\/span>. Meskipun ruh bangsa Indonesia telah ada sebelum wadag itu ada, namun bangsa itu adalah ruh yang butuh raga. Maka, raga itu terbentuk oleh proklamasi 17 Agustus 1945. Tidak mungkin ada raga tanpa ruh, atau sebaliknya ruh tanpa raga. Maka, bangsa Indonesia dengan proklamasi 17 Agustus 1945 adalah satu kesatuan tak terpisahkan, karena oncatnya ruh akan menyebabkan raga itu itu terombang-ambing seperti gembung. Proses itu kini sedang terjadi, bangsa ini mulai tercabut dari akarnya sehingga tri revolusioner menurut Daoed Joesoef itu hilang yaitu : Bangsa, Negara Bangsa, dan Pancasila sebagi perekat jiwa bangsa.<\/p>\n<p class=\"western\" lang=\"en-US\" align=\"JUSTIFY\"><span lang=\"id-ID\">Oleh karena itu, generasi yang tangguh adalah solusi dan itu hanya bisa dibangun melalui pendidikan Warga Sejati untuk memersiapkan mereka sebagai generasi tangguh, patriot yang <\/span><span lang=\"id-ID\"><i>\u201ctedhas tapak paluning pandhe sisaning gurindo\u201d<\/i><\/span><span lang=\"id-ID\"> yang akan mengawal NKRI sepanjang hayat dikandung badan adalah sebuah kemutlakan yang menjadi tanggung jawab Pendidikan untuk membangunkan jiwa dan raga bangsa.<\/span><\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">*<\/a>PPPRI 1946<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote2\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote2anc\" name=\"sdfootnote2sym\">*<\/a><sup>**<\/sup>Arsip Nasional : Sidang Umum MPRS ke-lll pada tanggal 11 April 1965, <a class=\"western\" href=\"http:\/\/kepustakaan-presiden.pnri.go.id\/speech\/?box=detail&amp;id=42&amp;from_box=list_1XX_245&amp;hlm=1&amp;search_7XX=Soekarno&amp;presiden_id=1&amp;presiden=sukarno\">http:\/\/kepustakaan-presiden.pnri.go.id\/speech\/?box=detail&amp;id=42&amp;from_box=list_1XX_245&amp;hlm=1&amp;search_7XX=Soekarno&amp;presiden_id=1&amp;presiden=sukarno<\/a><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paradigma Pendidikan Indonesia Mr. Soepomo dalam Sidang BPUPKI, 31 Mei 1945 mengemukakan teori Negara ditinjau dari segi integritas antara pemerintah dengan rakyat, yaitu tiga teori mengenai hubungan negara dengan rakyatnya, yaitu : Individualisme Diajarkan oleh Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), J.J. Rousseau (1712-1778), Herbert Spencer (1820-1903), Harold J. Laski (1839-1950). Teori ini menganggap negara &hellip; <a href=\"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=382\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Paradigma Pendidikan Indonesia<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":651,"parent":29,"menu_order":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_links_to":"","_links_to_target":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/382"}],"collection":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=382"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/382\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":652,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/382\/revisions\/652"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/29"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/651"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}