{"id":296,"date":"2014-08-30T06:04:14","date_gmt":"2014-08-30T06:04:14","guid":{"rendered":"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=296"},"modified":"2014-09-21T05:52:31","modified_gmt":"2014-09-21T05:52:31","slug":"berbagai-indikator-global","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=296","title":{"rendered":"Berbagai Indikator Global"},"content":{"rendered":"<ol type=\"I\">\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\"><b>LATAR BELAKANG<\/b><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\">Pada awalnya, karena latar belakang saya bukan orang Pendidikan, maka saya merasa agak mendapat kesulitan untuk mencari gambaran mengenai konstelasi peran Pendidikan dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan alam yang sudah menjadi isu nasional yang luar biasa dengan segala dampaknya, seperti kehilangan identitas, kehilangan kemanusiaan, kehilangan sistem nilai, kehilangan karakter. Setiap masuk ke sebuah diskusi mengenai isu-isu tersebut seperti menelusuri benang kusut dan seakan hilang harapan untuk meneruskan dan ibarat tidak ada ujung dan pangkal. Sampai akhirnya setelah saya mengikuti beberapa kuliah dan membaca berbagai literatur mengenai filsafat dan teori pendidikan serta berbagai fakta empirik termasuk kebiijakan pemerintah, akhirnya meskipun masih samar-samar saya melihat gambaran samar mengenai simpuil-simpul kekusutan tersebut. Sementara saya melihat bahwa Pendidikan Adalah Kunci Untuk Membangun Bangsa. Membangun manusia atau\u00a0<i>human capital.<\/i>\u00a0Pendidikan adalah kunci untuk membangun bangsa.<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\">Teori ekonomi klasik melihat\u00a0<i>human capital<\/i>\u00a0sebagai salah satu dari tiga faktor produksi namun seiring dengan perkembangan waktu dan peradaban serta ilmu pengetahuan pandangan itu telah berubah karena arti penting\u00a0<i>Human Capital<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>1<\/sup><\/a><\/i>\u00a0sehingga berbagai cabang disiplin ilmu baru berkembang seperti\u00a0<i>Human Resource Accounting<\/i>,\u00a0<i>Human Resource Development<\/i>,\u00a0<i>Organizational Behavior,<\/i>\u00a0dll. . Apalagi setelah perang dunia II\u00a0<i>Japenese Management Practices<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote2sym\" name=\"sdfootnote2anc\"><sup>2<\/sup><\/a><\/i>\u00a0memunculkan fenomena baru yang mengubah paradigma management yang sudah berusia ratusan tahun dan selama ini diyakini benar. Paradigma baru tersebut bertumpu pada manusia yang menjadi\u00a0<i>means and ends<\/i>\u00a0bagi\u00a0<i>organizational improvement<\/i>. Maka, istilah Jidoka atau\u00a0<i>empowerment<\/i>\u00a0muncul.<\/p>\n<ol start=\"2\" type=\"I\">\n<li>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\"><b>BANGSA, FILOSOFI DAN BUDAYA<\/b><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\">Dari\u00a0<span lang=\"en-US\">sudut<\/span>\u00a0pandang kehidupan berbangsa dan bernegara, ada perbedaan antara membangun bangsa dan membangun negara. Bangsa Indonesia berbeda dengan negara Indonesia. Bangsa adalah kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan budaya, etnik, dan bahasa<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote3sym\" name=\"sdfootnote3anc\"><sup>3<\/sup><\/a>, sedang negara secara umum adalah satu kesatuan wilayah, rakyat, dan pemerintah serta diakui oleh negara lain. Syarat primer suatu negara adalah\u00a0memiliki rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki pemerintahan yang berdaulat. Sedangkan syarat sekunder adalah mendapat pengakuan dari negara lain. Mungkin tidak mudah mendefinisikan Bangsa Indonesia karena terdiri sekitar 449 suku bangsa yang tersebar diseluruh provinsi. Mereka datang ke Nusantara secara bertahap dan ada dua bertentangan mengenai itu yaitu R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster, J.R Logen dengan Negrito, Proto, dan Deutro serta di sisi lain J. Crawford, K. Himly, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Gorys Keraf yang menyangkal dan mendukung teori Nusantara.<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\">Apapun pertentangan itu, namun satu hal pasti bahwa ada keragaman suku bangsa di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan secara geografis tersebar di seluruh teritorinya. Perkembangan peradaban suku-suku bangsa tersebut di wilayah-wilayah yang ditempati, seiring dengen perkembangan waktu, telah membuat mereka semakin unik dalam hal adat-istiadat, kebiasaan, makanan, keyakinan, dan kepercayaan sehingga semakin mewarnai identitas bangsa Indonesia.<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\">Di sisi yang lain, NKRI yang diproklamsikan pada 17 Agustus 1945 didisain dengan filosofi dan ideologi yang secara politik terjelma kedalam UUD 1945 yang menjadi sumber dari segala sumber hukum bagi semua UU, dan Peraturan yang dibuat pemerintah. Artinya, pemerintah hasil pemilu tidak boleh keluar dari koridor filosofi dan ideologi NKRI.<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/NKRI1.png\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-250 size-full\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/NKRI1.png\" alt=\"NKRI1\" width=\"800\" height=\"683\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/NKRI1.png 800w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/NKRI1-300x256.png 300w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/a><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\">Filosofi dan ideologi bangsa yang menjelma kedalam konstitusi itu hidup dan berkembang serta menjadi ciri bangsa. Penelitian Hofstede<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote4sym\" name=\"sdfootnote4anc\"><sup>4<\/sup><\/a>\u00a0mengenai lima dimensi budaya di berbagai negara, termasuk Indonesia<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote5sym\" name=\"sdfootnote5anc\"><sup>5<\/sup><\/a>, menunjukkan bahwa :<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\"><span style=\"color: #000000;\">Indonesia\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>has Power Distance<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a0(<\/span><span style=\"color: #000000;\">PDI<\/span><span style=\"color: #000000;\">)<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>\u00a0as its\u00a0<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>highest<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>\u00a0ranking Hofstede Dimension at<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a078.\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>The average Power Distance for the greater Asian countries is\u00a0<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">71. Artinya, ketidakseimbangan kekuasaan dan kesejahteraan dalam masyarakat cukup tinggi. Dalam kehidupan bermasyarakat, itu bukan berarti menjadi masalah namun cukup diterima di masyarakat sebagai bagian dari mereka dan\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>cultural heritage<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">. Snouck Hurgronye<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote6sym\" name=\"sdfootnote6anc\"><sup>6<\/sup><\/a>\u00a0pernah melakukan pendekatan ini di Aceh.<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\"><span style=\"color: #000000;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>The second highest Hofstede ranking for Indonesia is Uncertainty Avoidance (UAI) at 48, compared to the greater Asian average of 58 and a world average of 64<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">. Semakin tinggi nilai UAI maka semakin rendah toleransi masyarakat. Jadi, masyarakat Indonesia dibanding rata-rata bangsa Asia dan dunia lebih toleran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i>Indonesia has one of the lowest world rankings for Individualism<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a0(IDV)\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>with a<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a014, c<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>ompared to the greater Asian rank of\u00a0<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">23,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>and world rank of<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a043. Angka tersebut menjelaskan Gambaran mengenai bangsa Indonesia yang lebih Kolektivistik bila dibanding Individualistik. Ini menjelaskan mengapa paham integralistik Soepomo yang dipilih. Jadi, Hofstede menandai budaya bangsa Indonesia sangat toleran dan sangat kolektivisttik serta menghendaki semangat kebersamaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\"><span style=\"color: #000000;\"><i>General Characteristics<\/i>\u00a0dan\u00a0<i>Significant Values\u00a0<\/i>pada\u00a0<i>High Context Macrosystem<\/i>\u00a0dalam model sistem ekologi perkembangan anak dan orang dewasa Uri Bronfenbrenner<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote7sym\" name=\"sdfootnote7anc\"><sup>7<\/sup><\/a>\u00a0menjelaskan bagaimana ke dua parameter tersebut menjadi unsur dominan dalam budaya collective, toleransi, dan mudah menerima budaya asing.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"CENTER\"><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall.png\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-222\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall.png\" alt=\"Hall\" width=\"600\" height=\"326\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall.png 600w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2014\/08\/Hall-300x163.png 300w\" sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/a><\/p>\n<p class=\"western\" style=\"text-align: justify;\" align=\"CENTER\"><span style=\"color: #000000;\">Juga pendapat Clifford Geertz<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote8sym\" name=\"sdfootnote8anc\"><sup>8<\/sup><\/a>\u00a0dan Robert A. Hahn<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote9sym\" name=\"sdfootnote9anc\"><sup>9<\/sup><\/a>, yang membahas\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>Socio Democracy<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a0Soekarno yang dikatakan bukan sebagai demokrasi ala barat namun\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>mutual adjustment<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>join bearing of burden<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">,\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>voluntarism<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">\u00a0dan the Spirit of \u201cGotong Royong\u201d sebagai\u00a0<\/span><span style=\"color: #000000;\"><i>cultural value,\u00a0<\/i><\/span><span style=\"color: #000000;\">semakin menjelaskan hubungan antara budaya toleran dan kolektivitistik Hofstede dengan penilaian Clifford Geertz dan Robert A. Hahn mengenai nilai Gotong Royomg dalam Pancasila sebagai filosofi bangsa. Tampak pengaruh Plato disana.<\/span><\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\">Namun demikian, realita saat ini, apalagi setelah reformasi, muncul gejala-gejala individualistik yang semakin meningkat, hedonisme yang semakin meningkat, jurang kaya dan miskin semakin meningkat, kekerassan semakin meningkat, koruipsi semakin mewabah, penyelahgunaan wewenang pejabat negara semakin mewabah, usaha rakyat kecil yang semakin susah, dimana itu semua memunculkan kegelisahan masyarakat yang tercermin pada berita di media, tayangan dan dialog interaktif TV, seminar-seminar dan diskusi, serta bahan pembicaraan umu. Artinya, berbagai fakta tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat mengkalibrasi realita dengan harapan dan standard kehidupan yang sudah pernah dijalani sebelumnya.<\/p>\n<p class=\"western\" align=\"LEFT\"><span style=\"line-height: 1.5;\">\u00a0__________________________<\/span><\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">1<\/a><a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Arthur_O%27_Sullivan\">Sullivan, arthur<\/a>; Steven M. Sheffrin (2003).\u00a0<a href=\"http:\/\/www.pearsonschool.com\/index.cfm?locator=PSZ3R9&amp;PMDbSiteId=2781&amp;PMDbSolutionId=6724&amp;PMDbCategoryId=&amp;PMDbProgramId=12881&amp;level=4\"><i>Economics: Principles in action<\/i><\/a>. Upper Saddle River, New Jersey 07458: Pearson Prentice Hall. pp.\u00a05.\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/International_Standard_Book_Number\">ISBN<\/a>\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Special:BookSources\/0-13-063085-3\">0-13-063085-3<\/a>.\u00a0<a href=\"http:\/\/www.pearsonschool.com\/index.cfm?locator=PSZ3R9&amp;PMDbSiteId=2781&amp;PMDbSolutionId=6724&amp;PMDbCategoryId=&amp;PMDbProgramId=12881&amp;level=4\">http:\/\/www.pearsonschool.com\/index.cfm?locator=PSZ3R9&amp;PMDbSiteId=2781&amp;PMDbSolutionId=6724&amp;PMDbCategoryId=&amp;PMDbProgramId=12881&amp;level=4<\/a><\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote2\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote2anc\" name=\"sdfootnote2sym\">2<\/a>Proceeding Production and Operations Management Annual Conference,\u00a0<i>The New Paradigm in Operations Management and The New Paradigm in Teaching Operations Management<\/i>, Indianapolis USA, Spring 1996.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote3\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote3anc\" name=\"sdfootnote3sym\">3<\/a>The\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/New_Oxford_American_Dictionary\">New Oxford American Dictionary<\/a>,\u00a0<i>Nation<\/i>, Second Edn.,\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Erin_McKean\">Erin McKean<\/a>\u00a0(editor), 2051 pages, May 2005, Oxford University Press,\u00a0<a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Special:BookSources\/0195170776\">ISBN 0-19-517077-6<\/a>.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote4\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a name=\"btAsinTitle\"><\/a><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote4anc\" name=\"sdfootnote4sym\">4<\/a>Geert Hofstede,\u00a0<i>Culture&#8217;s Consequences: Comparing Values, Behaviors, Institutions and Organizations Across Nations<\/i>, 2<sup>nd<\/sup>\u00a0ed., Sage Pub., 2001<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote5\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote5anc\" name=\"sdfootnote5sym\">5<\/a>Geert Hofstede,\u00a0<i>Geert Hofstede\u00a0<\/i><strong><i>Analysis Indonesia<\/i><\/strong><strong>, on line 12\/18\/10,\u00a0<a href=\"http:\/\/www.cyborlink.com\/besite\/indonesia.htm\">http:\/\/www.cyborlink.com\/besite\/indonesia.htm<\/a><\/strong><\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote6\">\n<p class=\"western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote6anc\" name=\"sdfootnote6sym\">6<\/a>\u00a0Wikipedia,\u00a0<i>Christiaan Snouck Hurgronje<\/i>, on line 12\/18\/10,\u00a0<a href=\"http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Christiaan_Snouck_Hurgronje\">http:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Christiaan_Snouck_Hurgronje<\/a><\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote7\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote7anc\" name=\"sdfootnote7sym\">7<\/a>Bronfenbrenner Uri,\u00a0<i>the Ecology of Human Development<\/i>, Harvard University Press 1979.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote8\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote8anc\" name=\"sdfootnote8sym\">8<\/a>Geertz, Clifford.\u00a0<i>Local Knowledge: Fact and Law in Comparative Perspective<\/i>, pp. 167-234 in Geertz\u00a0<i>Local Knowledge: Further Essays in Interpretive Anthropology,<\/i>\u00a0NY: Basic Books. 1983.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote9\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote9anc\" name=\"sdfootnote9sym\">9<\/a>Hahn, Robert A.\u00a0<i>Anthropology in Public Health: Bridging Differences in Culture and Society<\/i>\u00a0Oxford, UK: Oxford University Press. 1999.<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote10\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" href=\"#sdfootnote10anc\" name=\"sdfootnote10sym\">10<\/a>Brameld, T.,\u00a0<i>Toward a Reconstructed Philosophy of Education<\/i>. New York 19: Dryden Press. Inc., 1956.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LATAR BELAKANG Pada awalnya, karena latar belakang saya bukan orang Pendidikan, maka saya merasa agak mendapat kesulitan untuk mencari gambaran mengenai konstelasi peran Pendidikan dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan alam yang sudah menjadi isu nasional yang luar biasa dengan segala dampaknya, seperti kehilangan identitas, kehilangan kemanusiaan, kehilangan sistem nilai, kehilangan karakter. Setiap masuk &hellip; <a href=\"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=296\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">Berbagai Indikator Global<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":364,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_links_to":"","_links_to_target":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/296"}],"collection":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=296"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/296\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":662,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/296\/revisions\/662"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/364"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=296"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}