{"id":1295,"date":"2015-01-03T09:12:25","date_gmt":"2015-01-03T09:12:25","guid":{"rendered":"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=1295"},"modified":"2015-01-08T20:40:55","modified_gmt":"2015-01-08T20:40:55","slug":"anti-tesa-yang-menyatukan","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=1295","title":{"rendered":"ANTI TESA YANG MENYATUKAN"},"content":{"rendered":"<p>Pergerakan\u00a0awal tahun 1900, yang dimulai oleh kehadiran STOVIA 1902, kemudian muncul \u00a0pula Serikat Dagang Islam di Solo oleh Haji Saman Hudi\u00a0<span style=\"color: #252525;\">16 Oktober 1905. Sejak Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta Ki Hadjar Dewantara\u00b9 menuturkan bahwa\u00a0<strong><span style=\"color: #0000ff;\">kemunculan kaum pergerakan dengan berbagai bentuk perkumpulan dipicu oleh rasa kepentingan bersama yang sungguh-sungguh di-insyafi \u00a0serta merupakan antitesa si terjajah terhadap si penjajah<\/span><\/strong>, paham nasional \u00a0terhadap paham kolonial, nasib masyarakat kebangsaan terhadap kekuasaan bangsa asing. Antitesa tersebut dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat dan ibarat bola salju yang membuat pemerintah kolonial semakin kewalahan dans emakin represif terhadap berbagai gerakan masyarakat. \u00a0Dalam hal ini, STOVIA yang dibentuk oleh pemerintah kolonial itu menjadi rahmat tersembunyi dimana kaum pergerakan revolusioner bisa berkumpul, meskipun tujuan awal pendirian STOVIA adalah untuk mencetak dokter-dokter pribumi yang akan menangani masalah kesehatan di Hindia Belanda karena pemerintah Hindia Belanda dan dokter-dokter Belanda kewalahan.<\/span><span style=\"color: #252525; line-height: 1.5;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Anti-tesa-e1420314860799.png\"><img loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1312\" src=\"http:\/\/asiswanto.net\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Anti-tesa-e1420314860799.png\" alt=\"Anti tesa\" width=\"1561\" height=\"484\" srcset=\"https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Anti-tesa-e1420314860799.png 1561w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Anti-tesa-e1420314860799-300x93.png 300w, https:\/\/as.pirus.id\/wp-content\/uploads\/2015\/01\/Anti-tesa-e1420314860799-1024x317.png 1024w\" sizes=\"(max-width: 1561px) 100vw, 1561px\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tahun 1912 , empat tahun setelah Boedi Oetomo berdiri, \u00a0Douwes Decker mendirikan partai politik pertama dengan nama Indische Partij dengan <strong><span style=\"color: #0000ff;\"><em>statuen<\/em> akan melakukan segala usaha yang menuju kemerdekaan Nusa dan Bangsa<\/span><\/strong>. Siapapun boleh menjadi anggota tanpa memandang atribut.<\/p>\n<p>Dalam hal ini, Ki Hadjar berpendapat bahwa Boedi Oetomo yang mulai dengan <span style=\"color: #0000ff;\"><strong>kesadaran kebangsaan<\/strong><\/span>, Serikat Islam yang mulai dengan<span style=\"color: #0000ff;\"><strong> kesadaran ekonomi dan Ke-Tuhanan<\/strong><\/span>, dan Indische Partij yang mulai dengan <strong><span style=\"color: #0000ff;\">kesadaran politik<\/span><\/strong> adalah tanda-tanda\u00a0yang menunjukkan kemajuan kaum pergerakan yang sehat dimana <span style=\"color: #0000ff;\"><strong>diferensiasi tampak dan menuju kesempurnaan<\/strong><\/span>.<\/p>\n<p>Maka, pemerintah Hindia Belanda tambah gelisah dan <em>devide et empera<\/em> mulai dilakukan di \u00a0Boedi Oetomo dengan mengirim Dr Hazeu untuk melemahkan kaum tua dan kaum moderat; ke Serikat Islam dikirim Dr Rinkes, sedang ke <em>Indische Partij<\/em> dikirim Gobnor Idenburg yang berkata: &#8220;<em>Indie zaal noit onafhankelijk worden<\/em>&#8221; atau Hindia Belanda tak akan menjadi negara merdeka. Dan, kemudian tiga serangai Douwes Decker, Tjipto mangoen Koeseomo, dan Soewardi Suryaningrat di buang ke Kupang, Banda Neira, dan Bangka. Bukan api pergerakan yang semakin padam seperti harapan Belanda, namun justru sebaliknya, semangat recolusioner semakin membara. \u00a0Atas usaha bersama kaum pergerakan, kalau sekarang saweran, \u00a0Tiga Serangkai itu kemudian pergi ke Belanda dengan harapan untuk melanjutkan perjuangan.<\/p>\n<p>Selanjutnya, gerakan politik terus berkembang \u00a0di lapangan ekonomi, sosial, kebudayaan, keagamaan, dll. Bahkan NU berhasil mendirikan pelayaran sendiri untuk mengangkut haji dan menolak maskapai pelayaran Belanda. Semangat pergerakan itu semakin menunjukkan musuh bersama yang satu, yaitu kolonialisme dan imperialisme. Maka, Ki Hadjar menegaskan : &#8220;rakyat kita dengan segala lapisannya dapat dipersatukan \u00a0apabila ada kepentingan bersama \u00a0yang <strong><span style=\"color: #0000ff;\">sungguh-sungguh dirasakan dan disadari<\/span>.<\/strong> Dan kepentingan bersama itu tdak lain adalah <span style=\"color: #0000ff;\"><strong>antitesa terhadap penjajahan<\/strong><\/span>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>_____________________<\/p>\n<p>Sumber utama : Ki Hadjar Dewantara, Dari Kebangunan Nasional sampai Proklamasi Kemerdekaan &#8211; Kenang-Kengan Ki Hadjar Dewantara, NV Pustaka, Penerbit Endang Jakarta, 1952.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pergerakan\u00a0awal tahun 1900, yang dimulai oleh kehadiran STOVIA 1902, kemudian muncul \u00a0pula Serikat Dagang Islam di Solo oleh Haji Saman Hudi\u00a016 Oktober 1905. Sejak Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta Ki Hadjar Dewantara\u00b9 menuturkan bahwa\u00a0kemunculan kaum pergerakan dengan berbagai bentuk perkumpulan dipicu oleh rasa kepentingan bersama yang sungguh-sungguh di-insyafi \u00a0serta merupakan antitesa si terjajah terhadap &hellip; <a href=\"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=1295\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">ANTI TESA YANG MENYATUKAN<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":1150,"menu_order":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_links_to":"","_links_to_target":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1295"}],"collection":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1295"}],"version-history":[{"count":23,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1295\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1359,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1295\/revisions\/1359"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1150"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}