{"id":1284,"date":"2015-01-03T05:17:04","date_gmt":"2015-01-03T05:17:04","guid":{"rendered":"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=1284"},"modified":"2016-01-19T23:06:04","modified_gmt":"2016-01-19T23:06:04","slug":"sistem-among-kalisator-gifted-talented","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=1284","title":{"rendered":"SISTEM AMONG TAMAN SISWA MENJADI KALISATOR GIFTED &#038; TALENTED STUDENT"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #0000ff;\"><strong><em>Gifted and Talented student<\/em><\/strong><\/span> menjadi salah satu isu yang ramai dibicarakan sampai saat ini dalam dunia pendidikan terutama pada pendidikan dini. <em>Pros and cons<\/em> masih mewarnai perdebatan mengenai perbedaan antara <em>Gifted and talented student<\/em>. Apalagi, kalau diserap menjadi padanan bahasa Indonesia yang berarti berbakat atau bakat. Mungkin <em>gifted<\/em> akan menjadi bakat dan <em>talented<\/em> akan menjadi talenta. Namun inipun, seperti arus besar perdebatan dunia juga masih mengundang perdebatan di Indonesia. Definisi <em>gifted and talented<\/em> dalam tulisan ini mengacu kepada salah satu aliran yaitu bahwa <a title=\"I.Q. and real-life functioning\" href=\"http:\/\/www.paulcooijmans.com\/intelligence\/iq_ranges.html\" target=\"_blank\"><em>Gifted<\/em><\/a> terkait dengan kecerdasan bawaan atau kecerdasan pukiran bawaan, sedang T<em>alented<\/em> terkait dengan minat atau keahlian bawaan.<\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5;\">Revolusi Pendidikan Ki Hadjar, sekembalinya dari Belanda, bernuansa politik anti kolonialisme dan diwujudkan dalam tiga bentuk, yaitu :<\/span><\/p>\n<ol>\n<li>Tujuan Pendidikan<\/li>\n<li>Pedagogi<\/li>\n<li>Isi<\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-size: medium; line-height: 1.5;\">Revolusi ini membuahkan sistem yang unik Taman Siswa dan sekaligus menjadi dasar Pendidikan Taman Siswa<\/span><a class=\"sdfootnoteanc\" style=\"font-size: medium; line-height: 1.5;\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>1<\/sup><\/a><span style=\"font-size: medium; line-height: 1.5;\">, yaitu Sistem Among, yaitu sistem yang memperhatikan :<\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p class=\"western\"><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">Kodrat Alam<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\"><span style=\"font-size: medium; line-height: 1.5;\">Kemerdekaan<\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<div id=\"sdfootnote1\"><\/div>\n<p><span style=\"line-height: 1.5;\">Dalam sistem ini, Guru harus menjadi Pamong bagi siswa yang\u00a0menjalankan peran yang berbeda sesuai fasa pertumbuhan dan perkembangan siswa, yaitu :<\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li>Masa kanak-kanak 1-7 tahun<\/li>\n<li>Masa pertumbuhan Jiwa dan Pikiran 7-14 tahun<\/li>\n<li>Masa terbentuknya Budi Pekerti atau Kesadaran Sosial, 14-21 tahun<\/li>\n<\/ol>\n<p>Terkait :\u00a0<a title=\"SARI PATI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=887\" target=\"_blank\"><span style=\"line-height: 1.5;\">SARI PATI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA<\/span><\/a><\/p>\n<p>Pada masa kanak-kanak, Guru menjalankan peran &#8220;Momong&#8221;; pada masa Pertumbuhan Jiwa dan Pikiran, Guru menjalan peran &#8220;Among&#8221;; sedang pada fasa Terbentuknya Budi Pekerti dan Kesadaran Sosial, Guru berperan &#8220;Ngemong&#8221;. Terkait: \u00a0<span style=\"line-height: 1.5;\"><a title=\"Momong, Among, Ngemong\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=69\" target=\"_blank\">Momong, Among, Ngemong<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">Maka, Guru yang menjalankan peran-peran tersebut sesuai dengan fasa pertumbuhan dan perkembangan anak menjalankan peran sebagai &#8220;<\/span><\/span><strong style=\"line-height: 1.5;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>Pamong<\/b><\/span><\/strong><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">&#8220;<\/span><\/span><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-size: large;\"><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>2<\/sup><\/a><\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">. Dalam hal ini, Ki Hadjar berpendapat bahwa pada masa kanak-kanak, Guru perempuan adalah yang paling tepat karena menjadi estafet\u00a0awal anak mulai masuk peradaban baru sekolah dan di luar rumah dengan berganti pendamping. Disamping itu, sangat jelas bahwa peran Guru di tingkat Taman Muda dan Taman Madya berbeda dari Taman Dewasa dimana masa pembentukan Budi Pekerti dan Kesadaran Sosial Anak terbentuk. Jadi, Sistem Among harap dibedakan dari peran Among pada pendidikan anak usia 7-14 tahun.<\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\"><\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"color: #0000ff; font-family: Bitter, Georgia, serif; font-size: 20px; line-height: 1.3;\">SISTEM AMONG<\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">Taman Siswa menganut\u00a0<\/span><\/span><em style=\"line-height: 1.5;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: large;\"><i><b>Amongsysteem<\/b><\/i><\/span><\/span><\/em><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: medium;\">\u00a0<\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">yang menjadi keunikan Pendidikan Taman Siswa<\/span><\/span><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-size: large;\"><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>3<\/sup><\/a><\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">, yaitu sistem yang mengemukakan dua dasar:<\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li>\n<p class=\"western\"><strong><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>Kemerdekaan<\/b><\/span><\/span><\/span><\/strong><strong><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><b><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote2sym\" name=\"sdfootnote2anc\"><sup>4<\/sup><\/a><\/b><\/span><\/span><\/span><\/strong><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\">, sebagai sjarat oentoek menghidoepkan dan menggerakkan kekoeatan lahir dan batin dari anak hingga bisa hidoep merdeka.<\/span><\/span><\/span><strong><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: medium;\">\u00a0<\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p class=\"western\"><strong><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>Kodrat Alam<\/b><\/span><\/span><\/span><\/strong><strong><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><b><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote3sym\" name=\"sdfootnote3anc\"><sup>5<\/sup><\/a><\/b><\/span><\/span><\/span><\/strong><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\">, sebagai sjarat oentoek mencapai kemajoean dengan setjepat-tjepatnya dan sebaik-baiknya.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<div id=\"sdfootnote1\"><span style=\"line-height: 1.5;\">\u00a0<\/span><\/div>\n<p class=\"western\"><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\">Di dalam\u00a0<\/span><\/span><\/span><strong><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>Pasal 7a Kemerdekaan<\/b><\/span><\/span><\/span><\/strong><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\">, terkandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Kebebasan bukan kebebasan yang leluasa, namun kebebasan yang terbatas, dan harus mengikuti tertib damainya hidup bersama.<\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p class=\"western\"><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\">Ketertiban di dalam kelas dengan cara pemaksaan atau kekerasan, misal dengan kata keras dan kasar, pendekatan pisik, \u00a0bukan bukanlah ketertiban yang sejati. Ketertiban dengan cara demikian hanya akan menimbulkan kegelisahan dan sekaligus menjauhkan dari rasa tenteram. Ketertiban demikian tidak akan langgeng. Disamping itu, anak-anak dengan pendekatan demikian tidak akan terdidik menjadi anak-anak yang berjiwa tertib-damai, sebaliknya akan menjadi orang-orang yang bertabiat takut dan dihinggapi perasaan rendah atau\u00a0<\/span><\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><i>i<\/i><\/span><\/span><\/span><em><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><i>nferioriteitaconflexen<\/i><\/span><\/span><\/span><\/em><em><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\"><i><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>6<\/sup><\/a><\/i><\/span><\/span><\/span><\/em><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: large;\">. Lihat pula perbandingan pendidikan di Yunani Athena dan Yunani Sparta ratusan tahun sebelum Masehi.<\/span><\/span><\/span><span style=\"line-height: 1.5;\">Terkait \u00a0<\/span><a style=\"line-height: 1.5;\" href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=351\" target=\"_blank\"><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-size: medium;\">Para Pemikir Kebajikan Pendidikan<\/span><\/span><\/a><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: medium;\">.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">Dalam pasal\u00a0<\/span><\/span><strong style=\"line-height: 1.5;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>7b Kodrat Alam<\/b><\/span><\/span><\/strong><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">, \u00a0masih diteruskan keterangan &#8220;dasar kemerdekaan&#8221;, yaitu ketegasan bahwa kemerdekaan dalam Pasal 7a hendaknya dikenakan pula terhadap cara anak-anak berpikir, \u00a0yaitu jangan selalu dipelopori, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain , akan tetapi anak-anak dibiasakan untuk mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri. <span style=\"text-decoration: underline;\">Biasakanlah anak-anak untuk merasakan dan memelihara kesadaran \u00a0dengan memberi kebebasan yang secukupnya<\/span>. Merdekakanlah batinnya, fikirannya, dan tenaganya. Itulah syarat-syarat untuk membimbing\u00a0<\/span><\/span><strong style=\"line-height: 1.5;\"><span style=\"color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>anak-anak agar sungguh-sungguh merdeka lahir dan batin<\/b><\/span><\/span><\/strong><strong style=\"line-height: 1.5;\"><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-size: large;\"><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>7<\/sup><\/a><\/span><\/span><\/strong><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">. Dalam lingkungan pendidikan seperti ini, dimana anak-anak diberi ruang yang sangat luas untuk mengekspresikan dirinya maka tanpa disadarai anak akan mengembangkan seluruh potensinya tanpa rasa takut atau tertekan. Maka, baik <em>Gifted<\/em> maupun <em>Talented<\/em> akan terkembangkan secara alami sesuai kodrat alam anak.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">Jadi,\u00a0<\/span><\/span><span style=\"line-height: 1.5; color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>Sistem Among<\/b><\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">\u00a0yang berdasar pada\u00a0<\/span><\/span><span style=\"line-height: 1.5; color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>Kemerdekaan<\/b><\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">\u00a0dan\u00a0<\/span><\/span><span style=\"line-height: 1.5; color: #0000ff;\"><span style=\"font-size: large;\"><b>Kodrat Alam<\/b><\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">\u00a0dalam Pendidikan\u00a0Taman Siswa adalah khas Taman Siswa yang membedakan Pendidikan Nasional Taman Siswa khas dan berbeda dari\u00a0Pendidikan Nasional yang lain. Maka, Ki Hadjar menekankan dalam berbagai tulisan dan sambutan hingga Kongres II Majelis Luhur Taman Siswa 1956 dan Pengukuhan Dr HC dalam Dies UGM VII 1956, bahwa keunikan itu harus dijaga selama Pendidikan Taman Siswa masih tetap bernama Taman Siswa, dikenal dengan <strong>SBIW<\/strong>\u00a0 atau <strong>S<\/strong>ifat, <strong>B<\/strong>entuk, <em>I<\/em>si, dan <strong>W<\/strong>irama. Lebih lanjut, Ki Mangoen Sarkara menegaskan Pendidikan Taman Siswa yang sebenarnya adalah mementingkan\u00a0Moralitas dari pada Nasionalitas, \u00a0dimana Nasionalitas dianggap sebagai bentuk penjelmaan Kemanusiaan yang tinggi<\/span><\/span><span style=\"color: #ac0404;\"><span style=\"font-size: large;\"><a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>8<\/sup><\/a><\/span><\/span><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-size: large;\">.<\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-size: large;\">Oleh karena itu, Pendidikan model Taman Siswa yang menyerap berbagai filosofi Pendidikan dunia seperti Rudolf Steiner dan model pendidikan mulai dari Montessori, Fro\u00e9bel, Dalton Santi Niketan<a class=\"sdfootnoteanc\" href=\"#sdfootnote1sym\" name=\"sdfootnote1anc\"><sup>9<\/sup><\/a>, dll., menjadi khas sebagai Perguruan Nasional yang\u00a0<\/span><strong><span style=\"font-size: large;\"><b>memerdekakan siswa<\/b><\/span><\/strong><span style=\"font-size: large;\">\u00a0<\/span><strong><span style=\"font-size: large;\"><b>berdasar kodrat alamnya<\/b><\/span><\/strong>\u00a0<span style=\"font-size: large;\">tanpa harus meninggalkan kodrat jaman, dikenal dengan <strong>TriKon*<\/strong>, yaitu :<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-size: large;\"><strong>Kontinuiteit<\/strong>, yaitu dalam pertukaran dengan duniar luar harus tidak terputus dengan alam kebudayaannya sendiri<\/span><\/span><\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-size: large;\"><strong>Konvergensi<\/strong>, yaitu bila kita sudah bersatu dengan kebudayaan-kebudayaan lain yang ada dalam alam universal maka kita bersama mewujudkan persatuan dunia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-size: large;\"><strong>Konsentris<\/strong>, yaitu bertitik pusat satu dengan alam-alam lebudayaan sedunia tetapi masih tetap memiliki <strong>garis lingkaran sendiri-sendiri<\/strong>.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #141412;\"><span style=\"font-family: 'Source Sans Pro', Helvetica, sans-serif;\"><span style=\"font-size: medium;\"><span style=\"font-size: large;\"><br \/>\ndengan peranan guru sebagai\u00a0<\/span><strong><span style=\"font-size: large;\"><b>pamong<\/b><\/span><\/strong>\u00a0<span style=\"font-size: large;\">sesuai dengan fasa pertumbuhan dan perkembangan anak, serta menempatkan anak menjadi\u00a0<\/span><strong><span style=\"font-size: large;\"><b>subyek<\/b><\/span><\/strong>\u00a0<span style=\"font-size: large;\">dalam proses pembelajaran, akan menjadi katalisator\u00a0untuk memunculkan keunikan anak, ibarat biji dan buah maka kelak buah itu akan berbuah banyak sesuai dengan benihnya, baik\u00a0<\/span><em><span style=\"font-size: large;\">gifted<\/span><\/em>\u00a0<span style=\"font-size: large;\">maupun\u00a0<\/span><em><span style=\"font-size: large;\">talented\u00a0<\/span><\/em><span style=\"font-size: large;\">serta\u00a0<\/span><strong><span style=\"font-size: large;\"><b>bermoral, <\/b><\/span><\/strong><strong><span style=\"font-size: large;\">yaitu anak-anak yang sesuai dengan garis bangsanya<\/span><\/strong><span style=\"font-size: large;\">.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\u00a0*) lihat pula <a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=977\" target=\"_blank\">Trisakti<\/a>, <a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=996\" target=\"_blank\">Tri Rahayu<\/a>,\u00a0 dan <a href=\"http:\/\/asiswanto.net\/?page_id=849\" target=\"_blank\">Tujuan P:endidikan Ki Hadjar<\/a>,<br \/>\nJuga Tujuan Kemerdekaan Indonesia : &#8220;ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial&#8221;<\/div>\n<\/div>\n<p><span style=\"font-size: 14pt;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"line-height: 1.5;\">___________________<\/span><\/p>\n<p><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">1<\/a>\u00a0\u00a0Ki Mangoensarkara,\u00a0<em><strong>Rentjana Oendang-Oendang Persatoean Taman Siswa<\/strong>,\u00a0<\/em>No. MPK I<em>\u00a0<\/em><em>,\u00a0<\/em>XIII-1938, Majelis Peroesahaan Kitab Taman Siswa&#8221;, Mataram, Jogjakarta, 1938, hal., 2.; Ki Hadjar dewantara, <em><strong>Azas Taman Siswa<\/strong><\/em>, Waskita DJ. I \u00a0no. 2, Oktober 1928.<\/p>\n<p><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">2<\/a>\u00a0 Ki Hadjar Dewantara, A<strong style=\"font-weight: bold;\"><i><b>zas-azas dan dasar-dasar Taman Siswa<\/b><\/i><\/strong>, Majelis Luhur Taman Siswa Jogjakarta 1961, hal 8-9<\/p>\n<div id=\"sdfootnote1\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">3<\/a>\u00a0 Oendang-oendang Taman Siswa, B. Sendi Pendidikan, Ps 7<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote2\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote2anc\" name=\"sdfootnote2sym\">4<\/a>\u00a0 \u00a0&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Ps 7a<\/p>\n<\/div>\n<div id=\"sdfootnote3\">\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote3anc\" name=\"sdfootnote3sym\">5<\/a>\u00a0 \u00a0&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Ps 7b<\/p>\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">6<\/a>\u00a0 \u00a0Ki Hadjar Dewantara,\u00a0<i><b>Azas-azas dan Dasar-dasar Taman Siswa<\/b><\/i>, Majelis Luhur Taman Siswa, Jogjakarta 1964, hal 8.<\/p>\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">7 <\/a>\u00a0 &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;, hal\u00a09<\/p>\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">8<\/a>\u00a0 \u00a0W. le Febre,\u00a0<i><b>TAMAN SISWA<\/b><\/i>, diterjemahkan oleh Naiposos, Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, Djakarta-Surabaya, hal. 69.<\/p>\n<p class=\"sdfootnote-western\"><a class=\"sdfootnotesym\" style=\"color: #ac0404;\" href=\"#sdfootnote1anc\" name=\"sdfootnote1sym\">9<\/a>\u00a0 \u00a0Ki Hadjar Dewantara, Taman Indriya, Majelis Luhur Taman Siswa, 1955, hal 5-10<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gifted and Talented student menjadi salah satu isu yang ramai dibicarakan sampai saat ini dalam dunia pendidikan terutama pada pendidikan dini. Pros and cons masih mewarnai perdebatan mengenai perbedaan antara Gifted and talented student. Apalagi, kalau diserap menjadi padanan bahasa Indonesia yang berarti berbakat atau bakat. Mungkin gifted akan menjadi bakat dan talented akan menjadi &hellip; <a href=\"https:\/\/as.pirus.id\/?page_id=1284\" class=\"more-link\">Continue reading <span class=\"screen-reader-text\">SISTEM AMONG TAMAN SISWA MENJADI KALISATOR GIFTED &#038; TALENTED STUDENT<\/span> <span class=\"meta-nav\">&rarr;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1533,"parent":1191,"menu_order":3,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_links_to":"","_links_to_target":""},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1284"}],"collection":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1284"}],"version-history":[{"count":63,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1284\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1840,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1284\/revisions\/1840"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/pages\/1191"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1533"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/as.pirus.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}